Bahasa Indonesia Juga Berevolusi, Kapan 'di' sebagai Kata Depan Mulai Dipisah, ya?

Bahasa Indonesia Juga Berevolusi, Kapan 'di' sebagai Kata Depan Mulai Dipisah, ya?
Ejaan Bahasa Indonesia berevolusi. (Freepik)

Hingga kini, masih banyak orang salah menuliskan 'di' sebagai imbuhan dan penanda keterangan tempat. Sebagai kata depan, 'di' seharusnya dipisah sebagaimana 'ke'dan 'dari', karena kendati terbaca sama baik, maknanya berbeda. Namun, siapa sangka, dulu kata 'di' selalu ditulis menempel. Lalu, kapan kata depan 'di' mulai dipisah?

Inibaru.id – Kamu pernah membaca atau sekadar melihat buku berjudul Dibawah Bendera Revolusi yang berisi himpunan tulisan Sukarno? Kalau peka, kamu mungkin merasa bahwa penulisan judul tersebut salah. Pasalnya, kata “di” yang dirangkai dengan kata “bawah” seharusnya dipisah karena menunjukkan keterangan tempat.

Belum lama ini Ivan Lanin, salah seorang selebtwit yang banyak mengulik tentang penggunaan bahasa di Indonesia, bercerita tentang ejaan yang mengalami perubahan. Dan, perubahan ini nggak terjadi sekali. Jadi, bisa dibilang ejaan dalam bahasa Indonesia berevolusi hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Dulu, menyambung kata depan seperti disini, disana, diatas, dibawah, dirumah, nggak salah. Kamu nggak akan diomeli dosen pembimbing atau dinyinyiri polisi bahasa. Tapi sekali lagi, itu dulu! Kamu kan orang sekarang, bukan warga bahela.

FYI, buku Sukarno itu terbit pada 1959. Penulisan merujuk pada ejaan Soewandi. Waktu itu, belum ada aturan mengenai pembedaan “di” yang dipisah sebagai kata depan dan “di-” yang disambung sebagai awalan pembentuk kata kerja.

Lalu, kapan “di” kata depan mulai dipisah? Penerapan untuk membedakan kata “di” baru ada pada Ejaan yang Disempurnakan (1972), Millens

Evolusi Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan van Ophuijsen. Setelah itu, pemerintah melakukan beberapa pembaruan ejaan, mulai dari Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi, Ejaan Pembaharuan, Ejaan Melindo, Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kasusastraan (LBK), Ejaan yang Disempurnakan (EyD), hingga Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Kamu penasaran nggak tahap evolusi ejaan ini? Yuk, simak ulasannya!

1. Ejaan van Ophuijsen (1901-1947)

Charles Adriaan van Ophuijsen, penemu ejaan Bahasa Indonesia pertama. (GNFI)
Charles Adriaan van Ophuijsen, penemu ejaan Bahasa Indonesia pertama. (GNFI)

Pada 1901, Ejaan van Ophuijsen mengawali penetapan ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan ini memakai huruf Latin dan sistem ejaan Bahasa Belanda. Penciptanya, Charles A. van Ophuijsen. Masyarakat memakai ejaan ini sampai 1947. Setelah, ejaan ini nggak sepenuhnya dihilangkan. Salah satu ciri ejaan ini ada pada penulisan kata “oe”.

2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (1947-1956)

Setelah van Ophuijsen, diciptakanlah Ejaan Republik yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Tujuan pemerintah adalah menyempurnakan ejaan sebelumnya, yaitu van Ophuijsen. Kebijakan ini dibahas dalam Kongres Bahasa Indonesia I, pada 1938 di Solo.

Dari kongres inilah Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi lahir. Nama ini diambil dari Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan kala itu Raden Soewandi. Selain menyamakan penulisan kata depan dengan kata kerja, ciri ejaan ini menulis angka dua (2) di belakang kata ulang seperti anak2, mobil2, rumah2, dan seterusnya. Hayo, siapa yang pernah nulis gini?

3. Ejaan Pembaharuan (1956-1961)

Prof Mr Muhammad Yamin. (Wikipedia)
Prof Mr Muhammad Yamin. (Wikipedia)

Dalam Kongres Bahasa Indonesia II yang digelar pada 1954 di Medan, perubahan sistem ejaan untuk menyempurnakan Ejaan Soewandi dibicarakan. Kongres ini digagas oleh Menteri Mohammad Yamin. Ciri ejaan ini, mengeja sungai dengan sungay, koboi dengan koboy, kerbau dengan kerbaw, dan lain-lain.

4. Ejaan Melindo (1961-1967)

Pada akhir 1959, ejaan ini dikenal dalam Perjanjian Persahabatan Indonesia dan Malaysia. Pembaruan ini dilakukan karena beberapa kosakata sulit dituliskan. Sayangnya, rencana peresmian ejaan bersama tersebut gagal. Hal ini dikarenakan hubungan Indonesia-Malaysia yang makin panas pada 1962. Tadinya, akan ada penyederhanaan fonem seperti menyapu” ditulis “meɳapu”.  

5. Ejaan Baru atau Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (1967-1972)

Ejaan Baru ini dikeluarkan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK), yang kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada 1967. Pembaharuan ejaan ini merupakan kelanjutan dari Ejaan Melindo yang sempat gagal diresmikan pada saat itu. Pada pembaruan ini hampir sama dengan EYD kecuali dalam hal kaidah.

6. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972-2015)

Sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) berlaku.  Ejaan ini diberlakukan pada masa menteri Mashuri Saleh untuk menggantikan Ejaan Soewandi. Dalam perjalanannya, EYD mengalami dua kali perbaikan yaitu pada 1987 dan 2009. Ciri-cirinya; masyarakat sudah nggak menulis “djayalah Indonesia”, tapi “jayalah Indonesia.

7. Ejaan Bahasa Indonesia (2015-sekarang)

embenahan ejaan terakhir dilakukan Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. (Liputan6)
embenahan ejaan terakhir dilakukan Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. (Liputan6)

Melalui Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia, Pemerintah terus melakukan pembenahan ejaan. Pembenahan ini dilakukan pada saat Anies Baswedan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bagaimanapun, ejaan merupakan aspek penting dalam berbahasa Indonesia yang benar. Betul nggak, Millens?

Jadi, sudah tahu kan kalau kamu menulis “disini, dirumah, didepan, berarti sudah nggak up to date dan kamu termasuk manusia zaman apa? Ha-ha. (lin,sua,zen/IB21/E03)