Awal Mula Kampung Pecinan di Pekalongan

Hampir tiap kota pesisir di Jawa memiliki kampung Pecinan, nggak terkecuali Pekalongan. Bukti kejayaan Bangsa Tionghoa dalam bentuk bangunan saat itu masih bisa kita amati meski semakin lama makin pudar tergerus zaman, berganti dengan bangunan modern.

Awal Mula Kampung Pecinan di Pekalongan
Perayaan Grebeg Sudiro di Pekalongan. (Cintapekalongan)

Inibaru.id - Pekalongan menjadi kota yang penting dalam kegiatan berdagang para etnis Tionghoa di zaman dulu. Letaknya yang di pesisir strategis banget menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal dagang bahkan sebagai tempat tinggal masyrakat Tionghoa kala itu.

Salah seorang yang menceritakan hal itu adalah Fa-Hien, seorang peziarah Tionghoa. Dia menyatakan bahwa di Ya-va (Jawa) ada umat Hindu. Dari laporan Fa-Hien itulah akhirnya Pemerintah Tionghoa menjalin hubungan kerja sama dengan Ya-va.

Kawasan Pecinan Pekalongan. (Tourism.pekalongankota)

Lalu, banyak pedagang Tionghoa yang singgah di Jawa, termasuk Pekalongan. Nggak begitu jelas kapan waktunya, tapi menurut naskah kuno Tiongkok Yitoung Techi diperkirakan sekitar abad ke-17.

Para pedagang Tionghoa tersebut, menurut M Huan (sekretaris Laksamana Ceng Ho), tinggal di Kampung Sampangan yang letaknya dekat dengan Sungai Kupang atau yang sekarang dikenal sebagai Sungai Loji. Nah, pemukiman di Kampung Sampangan inilah yang akhirnya berkembang menjadi Pecinan di Pekalongan. 

 

Sungai Kupang kala itu menjadi pangkalan pelabuhan dagang antarpulau. Kawasan itu dikenal dengan istilah “Pintu Dalem” yang juga menjadi pintu masuk ke Pecinan Pekalongan.

Pada masa kependudukan Belanda, gapura “Pintu Dalem” berada di pertigaan sebelum Gereja Santo Petrus. Di sana juga terdapat rumah klasik seorang Kapiten Tionghoa yang sampai sekarang masih berdiri bahkan menjadi sebuah hotel. 

Hotel Sidji, bekas rumah klasik seorang Kapiten Tionghoa di Pekalongan. (Nilatan.wordpress)

Lalu, di mana saja kita bisa menelusuri jejak-jejak kampung Pecinan Pekalongan? Selain ada di daerah Keplekan, baik Keplekan Kidul (Jalan Sultan Agung) dan Keplekan Lor (Jalan Hasanudin), pecinan juga ada di kawasan Kerimunan, yaitu Jalan Salak dan Jalan Manggis. Di kawasan itu masih ada beberapa bangunan bersejarah yang bisa kita saksikan nih, Millens.

Di Jalan Belimbing misalnya, ada rumah-rumah khas Tionghoa yang dibangun pada masa kolonial. Di sana juga terdapat sebuah klenteng.

Klenteng Pho An Thian yang berdampingan dengan Gereja Santo Petrus di Jalan Belimbing, Kota Pekalongan. (Discoverpekalongan)

Selain itu, ada sebuah bangunan yang disebut Gedung Gajah yaitu bangunan unik milik warga Tionghoa yang mempunyai taman luas.

Hm, menarik untuk dikulik! Kalau ada waktu cukup banyak di Kota Batik, nggak ada salahnya mengelilingi jejak kampung pecinan di Kota Pekalongan, lo. Pasti mengasyikkan! (IB20/E03)