Akhir Tragis Rara Oyi di Antara Cinta Segitiga Keturunan Kerajaan Mataram

Akhir Tragis Rara Oyi di Antara Cinta Segitiga Keturunan Kerajaan Mataram
Makam Rara Oyi di Makam Para Pendosa Banyusumurup, Bantul. (Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo)

Nggak ada yang menyangka jika nyawa Rara Oyi, Putri Ngabehi Mangunjaya, harus berakhir di tangan suaminya sendiri, Pangeran Anom. Mirisnya, titah menghabisi Oyi datang langsung dari mertua cum mantan calon suaminya, Amangkurat I.

Inibaru.id – Amangkurat I oleng setelah ditinggal mangkat permaisurinya, Ratu Wetan (Ratu Mas Malang). Hasrat hidup penguasa Mataram itu baru bangkit setelah berhadapan dengan Rara Oyi, putri seorang mantri di Surabaya, Ngabehi Mangunjaya. Kala itu, Rara Oyi baru berusia 11 tahun.

Pencarian Rara Oyi bukanlah perkara yang mudah. Untuk menggantikan ratu tercintanya itu, penguasa Mataram pada 1646-1677 tersebut memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari perempuan dengan kriteria seperti mendiang permaisuri. Petunjuknya, tinggal di sekitar sungai yang segar airnya.

Rombongan pun tiba di tepi Kali Mas, Surabaya. Di daerah inilah mereka bersua Rara Oyi, sosok yang benar-benar cocok dengan permintaaan Susuhunan Amangkurat I. Segera, mereka memboyong Oyi ke Mataram.

Susuhunan pun klepek-klepek. Namun, Rara Oyi masih terlalu belia untuk diperistri. Maka, Oyi pun dititipkan kepada mantrinya, Ngabehi Wiraraja, hingga cukup usia untuk dinikahi dan dijadikan selir.

Rara Oyi Bertemu Putra Mahkota

Maksud hati memingit di wilayah istana agar nggak dilirik laki-laki lain, Oyi justru jatuh hati pada Pangeran Anom atau Raden Mas Rahmat (yang kelak menjadi Amangkurat II, suksesor Amangkurat I). Momen jatuh cinta sejoli tersebut mirip sinetron, lo!

Kala itu, Rara Oyi yang sudah beranjak remaja sedang membatik. Dia kaget begitu ada pemuda muncul di rumahnya. Dia berlari menjauh, tapi sempat menengok rupa sang pangeran sambil membetulkan rambutnya. Pangeran Anom yang saat itu juga sedang mencari calon istri pun langsung jatuh cinta.

Namun, dia harus putus asa setelah mengetahui bahwa Oyi adalah calon ibu tirinya. Sementara, saat itu hubungan Mas Rahmat dan Amangkurat I juga nggak terlalu baik. Dia pun patah hati.

Melihat cucunya nggak nyenyak tidur, mengurung diri, dan enggan makan lantaran patah hati, Pangeran Pekik, sang kakek, pun bertindak. Mertua dari Amangkurat I atau ayah dari itu "menculik" Rara Oyi untuk dinikahkan dengan cucunya.

Penculikan ini pun membuat Amangkurat I murka. Segera, ia memerintahkan prajurit untuk memburu Pangeran Pekik dan keluarganya. Pangeran yang masih keturunan Sunan Ampel itu dieksekusi mati, plus kerabat dan keluarganya, tapi Mas Rahmat diampuni, tentu saja dengan syarat yang membebani.

Hukuman Raja untuk Putra Mahkota

Lukisan Amangkurat I. (BangkaTribun/IST)
Lukisan Amangkurat I. (BangkaTribun/IST)

Kira-kira apa hukuman Amangkurat I kepada Pangeran Anom? Bukan dibunuh, diasingkan, atau dimakzulkan, melainkan dia harus membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri. Sadis? Kala itu, Susuhunan Amangkurat I memang terkenal sadis dan nggak mengenal ampunan.

Susuhunan memang tergila-gila pada Oyi, tapi dia terlanjur kecewa dan marah. Bahkan, dia mengatakan nggak sudi menghirup udara yang sama. Pangeran Anom yang nggak bisa berkutik kemudian menyanggupi untuk menghabisi nyawa perempuan yang amat dicintainya.

Oyi pun pada akhirnya harus meregang nyawa setelah dadanya ditikam suaminya sendiri. Ada versi yang mengatakan perempuan molek itu dihabisi langsung di hadapan Susuhunan. Sebagian sejarawan lebih memercayai cerita ini.

Namun, ada satu versi lain, yakni sepulang dari menghadap ayahnya, Mas Rahmat langsung memeluk sang istri. Tanpa disadari Oyi, Mas Rahmat menghunus keris dan dalam sekejap menikam dada istrinya itu. Oyi pun tewas di pangkuan Mas Rahmat.

Bersama Pangeran Pekik dan keluarganya, Rara Oyi kemudian dimakamkan di Banyusumurup. makam yang diperuntukkan bagi para pembangkang Kerajaan Mataram.

Dendam yang Terbalaskan

Kematian Oyi begitu membekas di hati Raden Mas Rahmat. Dia menyimpan dendam kesumat pada ayahnya tersebut. Bersekutu dengan pasukan Madura (Trunajaya) dan pelarian dari Makassar (Karaeng Galesong), dia sempat mencoba menggulingkan Amangkurat I.

Persekutuan itu nggak berlangsung lama, karena pada akhirnya Mas Rahmat kembali memihak sang ayah melawan Trunajaya yang nggak mau menyerahkan Kartasura kepadanya.

Dukungan rakyat Madura, pelarian Makassar, plus Panembahan Giri dari Surabaya, membuat pasukan Trunajaya menjadi begitu kuat, hingga mampu menguasai Plered, ibukota Mataaram. Susuhunan dan Mas Rahmat melarikan diri. Inilah awal dari akhir Kerajaan Mataram.

Namun, dendam Mas Rahmat kepada Amangkurat I rupanya belum tuntas. Dalam pelarian, Susuhunan diracun oleh Mas Rahmat. Susuhunan meninggal dan dikuburkan di Tegalarum. Sementara, Plered yang ditinggalkan Trunajaya diambil alih Mas Drajat, anak tiri Amangkurat I dari Ratu Wetan. 

Selanjutnya, dengan bantuan VOC, Mas Rahmat memukul mundur Trunajaya, lalu mengangkat dirinya menjadi Amangkurat II dan mendirikan Kasunanan Surakarta. Sejak saat itu, Kerajaan Mataram pecah menjadi dua dan peperangan terus berkecamuk hingga Perjanjian Giyanti.

Wah, cinta segitiga ayah dan anak keturunan Mataram ini sungguh mengerikan ya, Millens!(his,inti,moj/IB21)