Agar Harpa Rahang Bambu Terus Mengalun

Agar Harpa Rahang Bambu Terus Mengalun
Sekotak makan berisi harpa rahang sering dibawa Iwennk ke mana-mana untuk dikenalkan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Satu hal yang pengin dilakukan oleh Erwin Rizki (Iwenk), dia bertekad menjaga kelestarian musik tradisional harpa rahang bambu yang sudah jarang ditemui. Tekad itu dia wujudkan dengan tindakan-tindakan regenerasi yang nggak pernah lelah, baik secara pribadi maupun komunitas. Bagaimana Iwenk melakukannya ya?

Inibaru.id – Pada Maret 2009 lalu berdiri kelompok musik hardcore bernama Karinding Attack di Bandung. Awal mulai memang belum keren, tapi saat ini kelompok tersebut telah keluar masuk negeri-negeri lain di negara Eropa. Dari sinilah loncatan awal yang menjadikan karinding atau yang secara umum dikenal dengan nama harpa rahang diketahui banyak orang.

Menurut pegiat harpa rahang bernama Iwenk, aktor seperti Karinding Attack inilah yang membuat karinding bisa dikenal publik luas, termasuk anak muda dengan semua upaya pelestariannya.

Selain lewat kemunculan Karinding Attack, karinding dapat bertahan pula karena komunitas. Iwenk bersama dua orang temannya Ibnu dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan Nabil dari UIN Sunan Kalijaga membuat komunitas Suku Karinding Jogja (Sukarjo). Tepatnya April 2019, kelompok yang bertujuan untuk melestarikan karinding ini dibentuk.

“Sukarjo terbentuk karena kegelisaahanku sendiri, di mana orang sukanya beli-beli-beli, nggak ada regenerasi dan pengrajin karinding. Di sini bambu dan alatnya disediakan sendiri. Ngumpul-ngumpul di kos sebulan dua kali,” kata pemuda asal Semarang itu.

Iwenk dengan harpa rahang bambu hasil buatannya. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Iwenk dengan harpa rahang bambu hasil buatannya. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Selain acara kumpul-kumpul, Sukarjo juga menyelenggarakan workshop untuk orang-orang yang tertarik belajar dan membuat karinding. Hasil dari workshop ini cukup efektif, beberapa orang sudah ada yang bisa membuat karinding sendiri.

Komunitas semacam Omah Guyub yang berada di Kasongan, Yogyakarta menjadi tempat Iwenk  berproses. Di komunitas inilah berbagai jenis seniman berkumpul, Iwenk menggambarkan Omah Guyub sebagai “orang seni betulan”. Yakni mereka yang dengan segala keterbatasan memunculkan berbagai imajinasi liar. Merespon sesuatu menjadi sesuatu.

Jalan lebih sunyi lain yang dilakukan Iwenk adalah dengan membawa sekotak karinding seukuran box makan ke manapun dia pergi.Dia kemudian menarasikan alat itu kepada orang lain. Menurutnya hal tersebut lebih progresif daripada menjual karinding. Nggak hanya di dalam negeri, Iwenk memiliki mimpi pula untuk memperkenalkannya ke luar negeri sebagaimana yang dilakukan Karinding Attack.

Jenis harpa rahang lain dari Vietnam yang dibuat dari logam. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)<br>
Jenis harpa rahang lain dari Vietnam yang dibuat dari logam. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

“Bagiku karinding progres banget karena tersebar di seluruh dunia. Di Eropa, Amerika, Jepang, Kazakhstan, seluruh dunia ada,” ujarnya.

Bagi Iwenk, melestarikan nggak cukup dengan hanya membeli, tapi juga membuat. Dengan menjadi pengrajin, seseorang akan lebih intim dengan apa yang dibuatnya. Keterbukaan pikir pun juga terjadi.

Kamu berminat melestarikan karinding atau jenis harpa rahang lain juga, Millens? Kalau iya, jangan cuma membeli ya, tapi jadilah pengrajin, he-he. (Isma Swastiningrum/E05)