Adipati Martoloyo dan Sifat Lugas Orang Tegal  

Adipati Martoloyo dan Sifat Lugas Orang Tegal  
Sosok teladan orang Tegal. (Pantura Pos)

Sifat lugas orang Tegal bisa jadi warisan dari Adipati Martoloyo. Tanpa basa basi, dia menentang kerjasama antara Amangkurat II dengan VOC. Sepak terjang Martoloyo berakhir oleh buah tikaman keris dari suruhan raja Mataram itu.

Inibaru.id - Menurut cerita, kata Tegal memiliki arti Teteg, Eling, Gesit, Alim, dan Lugas yang sesuai dengan karakter orang Tegal itu sendiri.

Di sana, ada sosok yang dijadikan teladan dan dianggap sebagai cerminan sikap mental orang Tegal, bernama Tumenggung Martoloyo.

Tumenggung Martoloyo adalah Adipati Tegal ketiga yang memimpin pada 1925 hingga 1678. Dia hidup di zaman Sultan Agung Haryokrokusumo hingga Amangkurat II.

Martoloyo adalah seorang Adipati yang jujur, lugas, selalu membela kebenaran dan keadilan, serta sangat setia kepada rajanya. Mirip deh sama sifat orang Tegal.

Sikap Blak-blakan Martoloyo

Lakon 'Martoloyo-Martopuro' dipentaskan pada upacara Hari Pramuka di Tegal, 14 Agustus 2018. (Facebook/tegaltalk)
Lakon 'Martoloyo-Martopuro' dipentaskan pada upacara Hari Pramuka di Tegal, 14 Agustus 2018. (Facebook/tegaltalk)

Karena sifat jujur dan apa adanya ini, Martoloyo nggak bisa menyembunyikan ketidaksenangannya ketika Amangkurat II menjalin kerjasama dengan VOC. Hubungan ini bermula ketika Amangkurat II berunding untuk membicarakan bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo.

Yap, demi mempertahankan tahtanya, Amangkurat II menghamba kepada VOC sehingga membuat rakyatnya hidup miskin dan menderita.

Puncak kemarahan Martoloyo terjadi ketika diadakan Perjanjian Jepara tahun 1676. Isinya, kesepakatan bahwa Mataram harus menyerahkan pesisir Jawa kepada Belanda. Martoloyo yang kepalang geram kemudian walkout dari pertemuan itu.

Sikap blak-blakan Martoloyo ini terang saja membuat Amangkurat II marah. Dia mengutus Martopuro, Adipati Jepara untuk membawa kembali Martoloyo dalam keadaan hidup ataupun mati.

Pertarungan Martoloyo dan Martopuro

Martoloyo dan Martopuro tewas terkena tikaman keris satu sama lain. (Merdeka)
Martoloyo dan Martopuro tewas terkena tikaman keris satu sama lain. (Merdeka)

Martoloyo harus mati dalam perang tanding dengan saudara seperguruannya sendiri Tumenggung Martopuro Adipati Jepara. Dengan berat hati, Martopuro harus melaksanakan titah raja.

Menurut cerita, pertempuran kedua saudara ini terjadi di sebuah pertigaan di tengah Kota Tegal. Tumenggung Martoloyo berucap lirih “silakan Adipati Martopuro” sambil menghunus keris Kiai Sepuh. Kata-kata itu dibalas anggukan Martopuro seraya mencabut keris Kiai Kasur miliknya.

Martoloyo yang nggak sudi tanahnya dijajah Belanda gugur bermandikan darah bersama dengan Martopuro. Keduanya tewas akibat tikaman keris satu sama lain.

Meski akhir hayatnya tragis, tapi sifat jujur dan berani Adipati Martoloyo patut dicontoh ya, Millens? Masa iya kamu nggak bosan sama pejabat yang lain di mulut, lain di hati? (Sua,Kom/IB32/E05)