5 Mitos Larangan Pernikahan Adat Jawa, Pernah Dengar?

5 Mitos Larangan Pernikahan Adat Jawa, Pernah Dengar?
Ilustrasi: Banyak mitos larangan seputar pernikahan orang Jawa. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Mungkin karena pernikahan adalah fase serius, orang Jawa nggak sembarangan melakukannya. Ada berbagai larangan yang nggak boleh dilanggar kalau mau langgeng dan bahagia. Hm, apa saja ya?

Inibaru.id - Dalam tradisi Jawa, menikah nggak sekadar asal menggelar pesta. Ada banyak hal yang harus diperhatikan orang Jawa sebelum melangsungkan pernikahan. Paling nggak, hal ini berlaku bagi orang-orang yang percaya pada mitos-mitos larangan seputar pernikahan. 

Ribet sih, tapi bagi mereka ini lebih baik ketimbang mempertaruhkan kebahagiaan kedua pengantin berikut keluarganya. Terkadang, larangan tersebut lengkap dengan konsekuensinya. Hm, apa saja sih mitos tersebut?

1. Dilarang Menikah pada Bulan Sura (Muharram)

Ilustrasi: Mencari tanggal baik untuk menggelar pernikahan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Mencari tanggal baik untuk menggelar pernikahan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Kalau mitos ini mungkin kamu sudah sering mendengarnya. Yap, nggak baik menggelar hajatan, termasuk pernikahan, pada bulan pertama dalam penanggalan hijriyah ini. Konon, bulan tersebut keramat dan sering membawa bala (musibah) bagi orang-orang yang punya acara besar.

2. Posisi Rumah Calon Mempelai Berhadapan

Ilustrasi: Konon, rumah calon mempelai berhadapan juga nggak baik, lo. (ceritamistis)
Ilustrasi: Konon, rumah calon mempelai berhadapan juga nggak baik, lo. (ceritamistis)

Jatuh cinta sama tetangga sendiri bisa jadi masalah buat orang Jawa. Terlebih lagi kalau rumah saling berhadapan. Masih bisa menikah sih, tapi harus ada salah satu yang mengalah dengan merenovasi rumah biar nggak lagi berhadapan. Duh, tambah bengkak kan biaya yang harus disiapkan? 

Cara lain, salah seorang calon pengantin harus mau "dibuang" dan diangkat anak oleh kerabat lain yang rumahnya nggak berhadapan. 

3. Weton

Ilustrasi: Katanya, kalau wetonmu dan calon jatuh pada hasil yang nggak baik, rasanya sulit melangkah ke jenjang pernikahan. (borobudurnews)
Ilustrasi: Katanya, kalau wetonmu dan calon jatuh pada hasil yang nggak baik, rasanya sulit melangkah ke jenjang pernikahan. (borobudurnews)

Kalau mitos yang satu ini sh masih kental dipercaya dan dipegang teguh oleh sebagian besar orang Jawa. Bahkan, nggak jarang pasangan yang harus batal menikah manakala weton mereka nggak cocok. Jadi, pacaran lama nggak jadi jaminan kamu bisa di-ACC sama keluarga doi yang memegang erat tradisi Jawa.

4. Pernikahan Anak Pertama dengan Anak Ketiga (Jilu)

Ilustrasi: Mitos larangan pernikahan anak pertama dengan anak ketiga. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Mitos larangan pernikahan anak pertama dengan anak ketiga. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Pernikahan jilu atau siji lan telu atau pernikahan anak pertama dengan anak ketiga juga dinilai nggak baik. Mitosnya sih akan banyak masalah yang menghampiri keduanya. Barangkali mitos ini muncul karena ada perbedaan karakter antara anak pertama dengan anak nomor tiga. Hm, bener nggak sih?

5. Pernikahan Siji Jejer Telu

Ilustrasi - Ada mitos pernikahan siji jejer telu. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi - Ada mitos pernikahan siji jejer telu. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Jika kamu dan pasangan sama-sama anak pertama dan salah seorang orang tuamu atau pasangan juga anak nomor satu, mitosnya nggak baik menikah lo. Ini yang disebut siji jejer telu yaitu tiga orang yang juga anak pertama. Katanya, kalau maksa menikah akan ada malapetaka dan kesusahan yang mewarnai. 

Gimana, Millens, kamu sama pasangan pernah dengar soal mitos-mitos di atas nggak? (IB21/E03)