10 Ribu Lepet dan Ketupat Dibagikan Cuma-Cuma di Festival Barikan Mijen

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bersedekah. Di acara satu ini, masyarakat membagikan ribuan lepet dan ketupat lengkap dengan sayur yang sudah matang.

10 Ribu Lepet dan Ketupat Dibagikan Cuma-Cuma di Festival Barikan Mijen
Pengumpulan lepet oleh warga untuk Barikan (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Jika minggu lalu kebetulan kamu melintas di sekitar Mijen, Semarang, Jawa Tengah, mungkin kamu salah satu yang mendapatkan lepet di jalan. Ya, tak kurang dari 10 ribu lepet dibagikan di sana pada Kamis, 28 Februari 2019 lalu, tepatnya di sekitar Dukuh Sidodadi, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen.

Acara bagi-bagi lepet yang digelar masyarakat Dukuh Sidodadi itu merupakan bagian dari Festival Barikan di Mijen. Acara itu digelar untuk memperingati Haul Mbah Degol dan Mbah Wonoyudho.

Sekitar 10 ribu lepet ludes dibagikan pengguna jalan di sekitar dukuh tersebut. Bersama lepet, panitia juga membagikan ketupat dan sayur yang bisa dinikmati di tempat.

Lepet digantung setelah matang agar tiris airnya

Lepet-lepet yang siap dibagikan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Lepet merupakan penganan khas Jawa yang biasa disajikan pada perayaan budaya di pelbagai daerah, khususnya di tengah masyarakat Jawa dan Sunda.

Makanan yang berbahan dasar beras ketan ini punya bentuk yang hampir mirip arem-arem, tapi dengan bungkus dari janur yang diikat memakai tali bambu. Saat memasak, lepet-lepet itu kemudian direnteng agar mudah ketika meniriskannya.

warga dukuh Sidodadi membagikan lepet kepada pengguna jalan

Para pengemudi mendapatkan lepet. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pembagian lepet ini adalah bentuk sedekah dari warga sekitar kepada masyarakat. Ini merupakan bagian dari rangkaian haul tokoh yang konon mem-babat alas Dukuh Sidodadi tersebut. Hari sebelumnya, kegiatan diawali dengan acara bersih makam, ziarah, khataman Alquran, dan pengajian pada malam harinya.

Sugiri, tokoh masyarakat di dukuh itu mengatakan, acara bertajuk Festival Barikan itu sudah berlangsung sejak lama.

“Acara ini digelar sebagai usaha nguri-uri budaya asli,” kata dia.

Kumpulkan Lepet

Lepet yang dibagikan ke masyarakat berasal dari warga Sidodadi. Warga umumnya membawa lepet dalam bakul yang ditutupi daun pisang. Setelah semua lepet terkumpul, mereka kemudian mendengarkan pembacaan sejarah Mbah Degol dan Mbah Wonoyudho, serta tahlil.

Setelah rangkaian awal acara kelar, warga kemudian mulai membagi-bagikan lepet kepada pengguna jalan, yang digelar tepat pukul 16.30 WIB.

Proses pembagian tersebut terbilang baru, karena sebelum ini lepet hanya diletakkan di keranjang untuk diambil siapapun yang melintas. Namun, cara ini dianggap kurang efektif dan bersisa, sehingga warga berinisiatif membagi-bagikan lepet secara langsung.

Warga membawa lepet dengan bakul

Warga setempat membawa lepet untuk dikumpulkan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Cara itu rupanya cukup efisien. Terbukti, tak kurang dari 30 menit lepet sudah ludes terbagikan. Bahkan, nggak sedikit yang harus kecewa lantaran nggak kebagian lepet. Duh, duh! (Zulfa Anisah/E03)