Literasi Media Efektif Atasi Buzzer

Di zaman media sosial seperti sekarang ini, atau orang yang membuat topik populer di media sosial menjadi karakter yang disoroti masyarakat. ini digerakkan untuk mengangkat topik tertentu di dunia maya. Mereka biasanya diarahkan untuk mengangkat atau bahkan menjatuhkan pamor para tokoh maupun media-media mainstream.

Literasi Media Efektif Atasi Buzzer
Literasi Media Efektif (Foto : google)
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Di zaman media sosial seperti sekarang ini, buzzer atau orang yang membuat topik populer di media sosial menjadi karakter yang disoroti masyarakat. Buzzer ini digerakkan untuk mengangkat topik tertentu di dunia maya. Mereka biasanya diarahkan untuk mengangkat atau bahkan menjatuhkan pamor para tokoh maupun media-media mainstream.

Saat para buzzer ini bekerja untuk hal-hal yang positif tentu itu dapat memicu semangat masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam aktifitas maupun misi yang positif. Tapi jika keberadaan buzzer tersebut diarahkan untuk sesuatu hal yang negatif, untuk menjatuhkan lawan atau media tertentu misalnya, maka keberadaannya perlu diantisipasi.

Itu mengapa kemunculan buzzer di media sosial pada beberapa kasus dianggap meresahkan karena kerap mengangkat berita hoax atau palsu. Apalagi jika dilihat dari karakter asli masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat. Hal itu menjadi salah satu faktor yang membuat mudahnya berita palsu yang disebarkan dengan sengaja itu mereka telan mentah-mentah.

Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Deddy Mulyana, sejak dulu orang Indonesia tidak terbiasa mencatat dan menyimpan data sehingga acap berbicara tanpa data. Sementara media sosial, sebagai sumber berita hoax, adalah kepanjangan panca indera manusia.

Berbeda dengan di Amerika. Kendati tak lepas dari berita hoax, tapi persebarannya masih bisa dikontrol dan tak semasif seperti di Indonesia. Pasalnya, mereka telah melewati tradisi literasi sebelum masuk era media sosial.

“Sementara bangsa kita yang tidak hobi membaca buku ini tiba-tiba dicekcoki dengan banjir informasi di ranah digital. Dan karena sifat dasarnya suka berbincang, maka informasi yang diterima itu lalu dibagikan lagi tanpa melakukan verifikasi,” imbuh Deddy.

Literasi Media

Peran masyarakat dalam menghentikan pergerakan para buzzer ini cukup berpengaruh. Seiring dengan derasnya arus informasi media, masyarakat pun dibuat kebingungan dan tidak mampu memilah, menyeleksi, serta memanfaatkan informasi yang mereka peroleh.

Oleh karena itu, masyarakat perlu literasi media, agar mereka aktif, cerdas, peka dan kritis dalam mengamati fenomena pemberitaan media saat ini. Dengan literasi media masyarakat akan teredukasi dengan baik untuk mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang ada.

Masyarakat akan lebih cerdas dan dapat mengetahui akun-akun yang digunakan sebagai buzzer. Lama-kelamaan masyarakat sendiri yang akan memerangi keberadaan buzzer tersebut. Mereka akan tahu dan tidak mau berhubungan dengan robot alias akun-akun yang tidak jelas.

Kongkritnya, masyarakat dapat turut aktif dalam memutus rantai pergerakan buzzer dalam persebaran berita hoax dengan tidak ikut membagikan kembali berita yang belum tepercaya. Selain itu, masyarakat dapat memilah berita yang berasal dari sumber yang telah terverifikasi. (IP)