Jogja Begitu Istimewa dalam Flatland Photography

Dodi bisa mengambil 150 hingga 300 foto yang kemudian diseleksi menjadi 8-10 foto saja agar bisa disatukan menjadi sebuah foto "flatland" yang sempurna.

Jogja Begitu Istimewa dalam Flatland Photography
Flatland Photography (Dodi Efdiatinur)

Inibaru.id – Belakangan ini media sosial seperti Instagram atau Twitter kerap menunjukkan foto lanskap pemandangan yang kebanyakan diambil di sekitar daerah Yogyakarta yang terkesan melengkung dan mencakup area lebih luas dari biasanya. Foto-foto tersebut adalah hasil karya dari Dodi Efdiatinur dan menggunakan teknik Flatland Photopgrapy.

Teknik fotografi flatland ini memang masih tergolong baru di Tanah Air. Karena hasil fotonya sangat unik, maka wajar jika foto-foto karya Dodi langsung menarik perhatian banyak orang.

Baca juga: Palapa Ring (Bakal) Datang, Internet di Seluruh Nusantara (Bakal) Lempang

Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada ini mengaku terinspirasi karya fotografer asal Turki bernama Aydin Buyuktas yang memang banyak menggunakan teknik yang juga dikenal sebagai droneception ini. Sebenarnya, seperti apa sih cara mengambil gambar dengan teknik fotografi flatland ini?

Pada dasarnya, teknik flatland ini sama dengan teknik fotografi lanskap, yakni mengambil objek berupa dataran. Hanya saja, hal ini akan sulit untuk dilakukan jika objek yang kita foto adalah daerah perbukitan atau pegunungan yang tidak rata. Dengan menggunakan teknik flatland, maka kita akan menyatukan beberapa gambar dari berbagai sudut, jarak, hingga ketinggian sehingga menghasilkan efek melengkung. Sebagai contoh, Dodi membutuhkan setidaknya 8 hingga 10 foto yang diambil dengan menggunakan drone. Lalu, foto-foto ini kemudian disatukan dengan menggunakan Adobe Photoshop untuk dijadikan sebuah foto flatland.

Untuk mendapatkan gambar yang tepat sehingga bisa dirangkai menjadi foto flatland, biasanya pemandangan bagian paling bawah diambil saat drone diterbangkan rendah dengan kemiringan lensa disejajarkan dengan lahan. Kemudian, drone diterbangkan lebih tinggi dan menjauh secara horizontal dengan lensa yang diarahkan beberapa derajat dengan posisi menukik ke bawah. Jika drone sudah mencapai ketinggian 150 meter dan jarak horizontal dari titik pertama kita mengambil gambar sudah mencapai 100 meter, lensa tinggal diarahkan ke bawah untuk membentuk sudut 90 derajat.

Baca juga: Karbon Biru Indonesia Sangat Dibutuhkan untuk Menahan Laju Perubahan Iklim

Demi mendapatkan sebuah foto flatland yang sempurna, Dodi mengaku bisa mengambil 150 hingga 300 foto dari berbagai sudut, jarak, hingga ketinggian yang diambil selama 30 menit. Dari ratusan foto inilah Ia pilih 8 hingga 10 foto terbaik untuk dirangkai sebagai sebuah foto flatland.

Sebenarnya, kita juga bisa menggunakan kamera digital atau DSLR untuk membuat foto flatland. Hanya saja, cakupannya jelas tidak bisa seluas atau setinggi dengan menggunakan drone. Penggunaan kamera digital ini bisa dipakai pada obyek yang relatif sempit atau kecil layaknya mainan atau miniatur.

Jadi, apakah Anda tertarik untuk mencoba membuat foto flatland seperti yang dibuat oleh Dodi? (AW/SA)