Nggak Hanya Facebook, Twitter Juga Pernah Jual Data ke Cambridge Analytica

Selain Facebook, Twitter juga sempat menjual data ke Cambridge Analytica. Namun, Twitter mengklaim data tersebut tidak berisi informasi pribadi pengguna.

Nggak Hanya Facebook, Twitter Juga Pernah Jual Data ke Cambridge Analytica
Selain Facebook, Cambridge Analytica juga mengakses data pengguna Twitter. (Marketwatch.com)

Inibaru.id – Facebook bukanlah satu-satunya jejaring sosial yang berhubungan dengan Cambridge Analytica. Belakangan diketahui, Twitter sempat berhubungan dengan konsultan pemenangan Donald Trump itu. Jejaring sosial besutan Jack Dorsey ini bahkan pernah menjual datanya kepada Global Science Research (GSR) yang menjalin kerja sama dengan Cambridge Analytica.

Bloomberg.com, Senin (30/4/2018), menulis, Twitter sempat memberikan keleluasaan bagi GSR untuk mengakses kicauan pengguna secara acak selama lima bulan, terhitung dari Desember 2014 hingga April 2015. GSR mendapatkan kicauan pengguna Twitter melalui Application Programming Interfaces (API) yakni teknologi yang memfasilitasi pertukaran data atau informasi antara dua atau lebih aplikasi perangkat lunak. Namun, perusahaan yang dikepalai Aleksandr Kogan itu belum memberikan penjelasan secara detail kepada Twitter.

Kendati pernah menjual data ke GSR, Twitter mengklaim nggak ada data pribadi yang diakses. Perwakilan Twitter menulis, “Tidak seperti pelayanan yang lain, Twitter pada dasarnya sudah terbuka untuk umum. Orang-orang masuk ke Twitter untuk berbicara secara terbuka. Kicauan-kicauan tersebut bisa dilihat dan dicari oleh siapapun.”

Atas fakta baru tersebut, kini CEO Twitter Jack Dorsey dan CEO Google Sundar Pichai dipanggil Kongres Amerika Serikat untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Bukan Pencuri Data

Di sisi lain, Kogan nggak mau disebut perusahaannya mencuri data. Dalam wawancara yang ditampilkan CBS News pada Sabtu (21/4), Kogan mengibaratkan jejaring sosial sebagai toko bahan makanan yang sedang membagikan sayuran pada para pelanggannya.

“Saya pikir pandangan kalau kami telah mencuri data itu, secara teknis, tidak benar. Maksud saya, justru mereka (jejaring sosial) yang menciptakan alat-alat hebat ini pada para pengembang untuk mengumpulkan data,” tutur Kogan.

Wah, kamu harus lebih berhati-hati lagi menggunakan media sosial ya, Millens. (IB15/E04)