Membatik Lebih Praktis dengan Canting Elektrik

Canting elektrik terlihat lebih ringkas dan praktis lantaran tak memerlukan tungku pemanas lilin. Namun, canting konvensional menang dalam variasi tingkat likuiditas

Membatik Lebih Praktis dengan Canting Elektrik
Seorang pembatik menggunakan canting elektrik dan meja berlampu dalam menyelesaikan karya batiknya. (Foto: Luckman Hakim/bangsaonline)

Inibaru-idCanting adalah senjata bagi seorang pembatik. Alat ini begitu vital sehingga membuatnya amat sulit untuk digantikan. Selama ini, pembatik menggunakan canting berbahan bambu yang digoreskan manual untuk membatik. Namun, kini, canting elektrik juga mulai dikembangkan.

Pada cara konvensional, canting dibuat dari tembaga dan bambu atau kayu. Bambu dipakai sebagai gagang pegangan, berbentuk memanjang. Gagang itu disatukan dengan cawan tembaga yang berujung mata canting.

Cawan kecil berfungsi sebagai gayung. “Gayung” itu dipakai untuk mengambil cairan lilin panas. Sedangkan ujung canting yang berbentuk lancip menyatu dengan cawan, menjadi semacam corong atau pena untuk melukis motif batik di atas kain.

Baca juga: PLTB Sidrap, Era Baru Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Indonesia

Sementara, lilin yang menjadi bahan membatik diletakkan di atas wajan, dipanaskan menggunakan tungku kecil. Tungku diletakkan sangat dekat dengan pembatik untuk memudahkan mereka meraih lilin cair untuk membatik. Pembatik harus meniup canting berisikan lilin cair terlebih dulu seusai diciduk dari wajan lantaran terlalu panas.

Bagaimana dengan canting elektrik? Tak sedikit yang menganggap canting elektrik adalah inovasi istimewa di kalangan para pembatik. Canting elektrik lebih sederhana, ringkas, dan mudah dipakai. Pengoperasiannya pun antiribet.

Sejatinya yang membedakan canting konvensional atau manual dengan canting elektrik hanyalah pada penggunaan energi listrik saja. Namun demikian, teknologi ini mampu memberikan kemudahan bagi pembatik dengan menjadikan canting sebagai alat lukis sekaligus pemanas lilin.

Lilin atau malam tinggal diletakkan pada tabung yang dibuat menyatu dengan canting, kemudian bahan itu akan mencair dengan sendirinya dengan memanfaatkan listrik sebagai pemanas.

Wadah lilin pada canting elektrik berbentuk tabung yang terbuka pada bagian atasnya. Tabung itu berdiameter kurang lebih lima sentimeter. Ujung canting berbentuk pena serupa canting konvensional, dan berfungsi sebagai tempat keluarnya cairan lilin.

Pegangan canting elektrik juga terbuat dari bambu atau kayu yan merupakan isolator. Bahan itu tidak mengantarkan panas sehingga cocok untuk dijadikan sebagai bahan pegangan.

Baca juga: Hebat, Pabrik Robotik Pelumas Karya Anak Bangsa Telah Diresmikan

Canting elektrik dinilai mampu menggantikan peran canting konvensioanal, dan pada saat bersamaan juga berhasil meringankan pekerjaan pengrajin batik. Namun demikian, ada banyak hal dalam canting konvensional yang sulit untuk digantikan.

Pembatik menakar sedikit-banyaknya lilin cair yang keluar dengan mempertimbangkan seberapa panas lilin yang ada di dalam cawan. Jika terlampau panas, lilin akan melebar. Maka, mereka harus meniup-niup ujung canting agar lilin sedikit lebih dingin, baru menggoreskannya di kain.

Hal inilah yang sulit dilakukan dalam canting elektrik. Canting bertenaga listrik cenderung mengeluarkan lilin yang tingkat likuiditasnya sama. Padahal, dalam membatik, pengrajin batik membutuhkan lilin dengan tingkat kecairan berbeda, tergantung pola yang diinginkan. (OS/SA)