Lebih dari 90% Penyebaran Berita Hoax lewat Medsos

Berdasar survey yang dilakukan Masyarakat Telematika (Mastel) diperoleh hasil bahwa media sosial merupakan saluran yang paling sering digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita hoax, dengan persentase 92,40%.

Lebih dari 90% Penyebaran Berita Hoax lewat Medsos
Penyebaran hoax (Foto : google)

Inibaru.id - Media sosial dan internet bak pedang bermata dua. Mereka bisa digunakan untuk hal-hal positif maupun negatif. Selain dapat digunakan untuk mendapat informasi, keduanya juga dapat digunakan sebagai medium untuk menyebarkan berita palsu alias hoax.

Berdasar survey yang dilakukan Masyarakat Telematika (Mastel) diperoleh hasil bahwa media sosial merupakan saluran yang paling sering digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita hoax, dengan persentase 92,40%.

Sementara pada posisi kedua, penyebaran berita hoax banyak tersebar melalui aplikasi chatting, seperti whatsapp, line, BBM, dll. Presentase angkanya adalah 62,80%. Dilanjutkan pada posisi tiga dengan persentase 34,90% adalah situs web.

Empat saluran yang persentasenya bahkan tak mencapai sepuluh persen sebagai saluran yang digunakan dalam persebaran informasi hoax diantaranya adalah televisi (8,70%), media cetak (5%), email (3,10%) dan radio (1,20%).

Bentuk Hoax

Media sosial, aplikasi chatting dan situs web menjadi lahan yang mendominasi persebaran berita hoax. Hal itu bukan tanpa alasan. Hampir sebagian besar bentuk hoax yang paling sering diterima adalah berupa tulisan, dengan persentase 62,10%. Dilanjut pada posisi kedua dan ketiga adalah gambar dan video. Masing-masing dengan persentase 37,50% dan 0,40%.

Itu sebabnya, media sosial dan aplikasi pengirim pesan cepat (chat apps) dianggap sebagai media termudah bagi para buzzer untuk menyebarkan informasi hoax berupa tulisan maupun gambar dengan cepat. Apalagi didukung dengan karakter masyarakat Indonesia saat ini yang senang berbagi informasi.

Ada perasaan bangga ketika bisa menyebarkan informasi paling cepat. Akhirnya, banyak orang berlomba-lomba untuk bisa menyebarkan informasi yang didapatnya. Dan keberadaan media sosial serta aplikasi pesan singkat itu membuat segalanya menjadi mudah.

Masifnya pergerakan berita hoax di media sosial dibandingkan pada saluran-saluran media lain salah satunya disebabkan para penyebar hoax merasa "aman" karena tidak berhadapan langsung dengan pihak lain yang dijadikan sasaran hoax.

Melihat hal tersebut masyarakat diharapkan lebih bijak dan kritis dalam memanfaatkan media sosial. Beberapa hal yang bisa dilakukan diantaranya seperti, memastikan terlebih dahulu akurasi konten yang akan dibagikan, menglarifikasi kebenarannya, memastikan manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya. (IP)