Kritis Bermedia, Waspada Informasi Hoax

Tak sedikit berita maupun informasi yang diedarkan para netizen di media sosial berasal dari media abal-abal.

Kritis Bermedia, Waspada Informasi Hoax
medsos hoax (Foto : google)

Inibaru.id - Kemudahan untuk mendapatkan informasi seiring dengan kecanggihan teknologi yang ada sekarang masih belum diimbangi dengan tingkat literasi masyarakat yang baik. Akibatnya tak sedikit informasi dan berita yang tersebar melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat kini banyak yang kontennya tidak sesuai dengan fakta, bohong bahkan fitnah.

Tak sedikit berita maupun informasi yang diedarkan para netizen di media sosial berasal dari media abal-abal. Ada asumsi bahwa muncul dan menggejalanya hoax dan media abal-abal dikarenakan media-media pers atau media mainstream kini tak berimbang dalam pemberitaan. Media-media ini dianggap telah melakukan framing dalam pemberitaan.

Pada beberapa kasus mungkin memang benar bahwa media mainstream membangun framing tertentu untuk menggiring isu publik. Tapi sebagai media pers, media-media mainstream tersebut masih menerapkan etika dan kaidah jurnalistik. Hanya saja beberapa pihak maupun oknum yang berseberangan justru memperburuk keadaan dengan memanipulasi berita yang telah dirilis media-media mainstream.

Seperti yang sedang marak terjadi adalah pemelintiran atau manipulasi terhadap berita yang dirilis Metro TV. Oknum tak bertanggung jawab telah mengedit potongan klip berita Metro TV dengan kata-kata yang provokatif lalu memviralkannya lewat situs website maupun akun media sosial. Info berita hasil editan itu jelas tidak sesuai fakta dan tidak sesuai dengan apa yang dirilis Metro TV di situs resminya.

Biasanya tipikal berita yang rawan dimanipulasi adalah berita dengan topik politik. Tujuan dari pemanipulasian tersebut bisa bermacam-macam, salah satunya adalah ingin menjatuhkan kredibilitas media mainstream tersebut atau ingin memecah belah beberapa pihak.

Oleh karena itu, saat ini netizen baiknya tidak mudah terhasut dengan hal-hal semacam itu.  Meski Dewan Pers telah memverifikasi media-media mainstream yang dapat dipercaya informasinya, ada baiknya masyarakat tetap memantau dan kritis terhadap pemberitaan mereka.

Ketika mendapat informasi yang provokatif dari media tersebut, periksa lebih dulu di situs resminya. Pastikan berita yang didapat itu benar-benar dirilis oleh media mainstream tersebut atau tidak. Jika tidak berarti memang berita itu telah dimanipulasi, diedit sedemikian rupa oleh pihak tertentu. Mari kita kritis bermedia. (IP)