Karbon Biru Indonesia Sangat Dibutuhkan untuk Menahan Laju Perubahan Iklim

Hutan mangrove atau bakau ternyata mampu menyerap karbondioksida dengan jumlah yang sangat banyak sehingga dianggap mampu menahan laju perubahan iklim.

Karbon Biru Indonesia Sangat Dibutuhkan untuk Menahan Laju Perubahan Iklim
Karbon Biru pada wilayah mangrove yang sedang dilestarikan di Kaimana, Papua Barat. (Mongabay)

Inibaru.id – Karbon biru atau blue carbon belakangan ini marak diperbincangkan oleh para pemerhati perubahan iklim. Jika sebelumnya perbincangan tentang perubahan iklim lebih difokuskan pada bahan-bahan fosil dan perlindungan hutan di seluruh dunia, kini semakin banyak yang memperhatikan karbon biru, khususnya yang ada di Indonesia, karena dianggap memiliki peran besar dalam mengendalikan perubahan iklim.

Baca juga: Teknologi Andalan Lapan untuk Gali Potensi Laut Indonesia

Conversation International (CI) Indonesia pada 18 Oktober 2017 lalu menyebutkan bahwa menurut data tahun 2015, Indonesia memiliki 3,1 juta hektare wilayah mangrove. Angka ini setara dengan 22 persen ekosistem mangrove di seluruh dunia. Wilayah mangrove terluas di Indonesia ada di Provinsi Papua Barat dengan luas 482,029 hektar. Sebagai informasi, hutan mangrove adalah salah satu ekosistem karbon biru yang mampu menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh aktivitas perubahan energi, khususnya yang dilakukan oleh manusia.

Pemerintah Daerah Kaimana di Papua Barat, Universitas Papua, Balai Riset dan Observasi Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Conversation International pada 2015 lalu bekerja sama untuk mencari seberapa banyak kemampuan serapan karbon di ekosistem karbon biru yang ada di Telug Arguni, Buruway, Etna, serta Kaimana kota di Kabupaten Kaimana. Hasilnya adalah, jumlah stok karbon pada lahan mangrove seluas 34,329 hektare ini setara dengan yang dihasilkan 19,7 juta unit kendaraan bermotor atau sekitar 39,3 miliar liter bensin setiap tahun. Bahkan, 76 ribu hektare kawasan mangrove di Kabupaten Kaimana ternyata menyimpan 54 juta Mg Carbon dengan potensi serapan mencapai 168.128 Mg C per tahun.

“Data ini menegaskan peran penting ekosistem mangrove dalam mendukung komitmen pengurangan emisi. Sayangnya, lebih dari setengah ekosistem mangrove Indonesia mengalami kerusakan dan karena itu kerjasama lintas sektor penting dilakukan," tutur Viktor Nikijuluw, marine Program Director CI Indonesia sebagaimana dikutip dari Good News from Indonesia (24/10).

Baca juga: Mau Punya Hard Disk Berkapasitas 40 TB?

Pemerintah Kabupaten Kaimana ternyata menyambut baik usulan untuk menjadikan wilayahnya sebagai laboratorium Blue Carbon. Mereka pun mendukung inisiatif pelestarian ekosistem mangrove dan mengembangkan alternatif mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat yang kebanyakan berbudaya kepiting bakau.

“Studi ini akan menjadi referensi kami dalam tata kelola pelestarian mangrove Kaimana yang tak hanya mendukung pencapaian komitmen nasional dalam pengurangan emisi, namun juga mendukung ekonomi masyarakat,” ungkap Bupati Kaimana Drs Mathias Mairuma. (AW/SA)