Indonesia Butuh Lebih Banyak Start-up Bidang Pelayanan Kesehatan

Kebanyakan start-up berada di bidang e-commerce. Kebutuhan terbesar start-up sebenarnya bidang pelayanan kesehatan.

Indonesia Butuh Lebih Banyak Start-up Bidang Pelayanan Kesehatan
Pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan. (Thenextweb.com)

Inibaru.id - Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi digital di Indonesia terus tumbuh. Investor diperkirakan akan berdatangan ke Indonesia pada tahun depan. Namun rupanya start-up di Indonesia masih belum merata. Pasalnya,  pada sektor tertentu jumlah start-up sangat besar sementara di beberapa sektor jumlahnya minim.

Dilansir dari GNFI (4/11/2017), Business Development Golden Gate VC, Dea Surjadi di sela-sela Tech In Asia Conference Jakarta pada 2 November lalu mengungkapkan bahwa saat ini start-up di Indonesia mayoritas adalah bidang e-commerce kemudian diikuti oleh fintech.

"Start-up dibidang health care (pelayanan kesehatan), agriculture tech dan edu tech perlu lebih banyak muncul," ujar Dea.

Baca juga: Program 1.000 Start-up dan Kendala Ketidaksiapan Ekosistem

Dia juga menjelaskan bahwa start-up di Indonesia perlu lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh pasar di Indonesia. Menurutnya, saat ini banyak start-up di Indonesia yang secara teknologi sangatlah maju namun tidak dibutuhkan pasar. Karena itu, start-up bisa melakukan perubahan target pasar, yang semula pasar lokal menjadi pasar di negara-negara lain. Hal ini menurutnya juga menjadi pertimbangan bagaimana sebuah institusi modal ventura melakukan investasi pada sebuah start-up.

"Jika ada yang bagus, strong founders, strong value preposition, dan market butuhkan. Terkadang start-up memiliki teknologi yang keren, tapi (pasar) Indonesia tidak membutuhkan, lalu untuk apa? Produknya canggih, jadi mungkin saja Singapura yang membutuhkan. Tapi Singapura kan pasarnya hanya berapa? Marketnya kecil. Jadi Indonesia prioritas," ungkapnya.

Dari sudut pandang sebagai investor, Golden Gate VC saat ini lebih memprioritaskan modalnya kepada start-up di Indonesia. Selain memiliki pasar yang besar Indonesia memerlukan banyak teknologi yang mampu menyelesaikan masalah. Beberapa start-up yang telah digelontorkan modal oleh Golden Gate VC adalah Halodoc, Printerous, Jojonomics, Gajian, Duit Pintar dan beberapa lainnya.

"Saat ini kami telah invest di 10 atau 11 start-up di Indonesia dari total 34 start-up," ujar Dea.

Baca juga: Aplikasi Crowdhelping Indonesia Raih Juara di Korsel

Dirinya juga percaya bahwa dana investasi untuk start-up di Indonesia tahun depan akan terus meningkat. Meskipun ada anggapan bahwa dalam waktu dekat ini, Indonesia tidak akan ada start-up dengan predikat unicorn baru selain "GTT" Go-jek, Traveloka, Tokopedia.

Berdasarkan riset yang dilakukan AT Kearney dan Google dan dilansir September yang lalu mengungkapkan bahwa Indonesia memang menjadi pusat perhatian investor teknologi digital. Dana investasi yang masuk ke Indonesia dalam lima tahun terakhir telah meningkat lebih dari 60 kali lipat. Dari 44 juta dolar AS menjadi 1,4 miliar dolar AS pada 2016 dan berganda pada2017 menjadi 3 miliar dolar AS. Hal ini menggambarkan bagaimana investor merasa percaya dengan pasar startup di Indonesia. (EBC/SA)