Singgung Kasus Holokaus, Wawancara Mark Zukerberg Timbulkan Kontroversi

Mark Zuckerberg kembali jadi kontroversi setelah mengangkat topik Holokaus dalam wawancaranya bersama media Recode. Begini ulasannya.

Singgung Kasus Holokaus, Wawancara Mark Zukerberg Timbulkan Kontroversi
Mark Zuckerberg. (Recode.net)

Inibaru.id – CEO Facebook Mark Zuckerberg kembali tersandung kontroversi saat menjalani wawancara bersama jurnalis Kara Swisher untuk media Recode pada Rabu (18/7/2018). Saat itu, Swisher mengundang Zuckerberg untuk membahas konten-konten apa sajakah yang akan dihapus media sosial yang berpusat di Silicon Valley, California, Amerika Serikat tersebut.

Dalam wawancara itu, Zuckerberg mengatakan pihaknya akan menghapus konten berisi ujaran kebencian, terutama di negara-negara seperti Myanmar dan Sri Lanka yang dikhawatirkan konten-konten itu memiliki konsekuensi yang menakutkan.

Sebelum ini, Facebook dianggap bertanggung jawab karena nggak memperketat kontennya dengan membiarkan tersebarnya berita nggak benar tentang pembunuhan satu keluarga muslim yang diduga dilakukan kelompok ekstremis Budha di Srilanka. Namun, faktanya satu keluarga tersebut meninggal akibat kecelakaan, seperti ditulis Nytimes.com (21/4).

Di sisi lain, Zuckerberg juga memperbolehkan konten dari situs-situs konspirasi untuk berdistribusi di Facebook.

“Prinsipnya adalah kami akan menghapus konten-konten yang mengakibatkan kerugian, termasuk kerugian fisik, atau kalau Anda menyerang seseorang. Konten seperti itu tidak seharusnya berada di tempat kami (Facebook),” ujarnya.

Swisher kemudian mengumpamakan peristiwa penembakan yang terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook pada 12 Desember 2014 silam adalah berita palsu yang tersebar di Facebook. Menanggapi perumpaan ini, Zuckerberg lantas menjawab, “Saya juga memikirkan bagaimana perasaan seorang korban penembakan Sandy Hook yang dikatai, ‘Hei, itu tidak terjadi, kau pembohong’. Itu mengusik dan kami akan menyelesaikannya.”

Selesai mengucapkan kalimat ini, Zuckerberg langsung mengaitkan kasus tersebut dengan Holokaus. Sebagai informasi, kasus Holokaus adalah kasus persekusi dan pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi di Eropa yang dilakukan secara sistematis dan birokratis selama Perang Dunia II. Konon, rezim Nazi Jerman adalah dalang dari kasus tersebut seperti ditulis laman Ushmm.org.

“Saya seorang Yahudi dan ada sejumlah orang yang menyangkal peristiwa Holokaus terjadi. Saya merasa itu sangat menyerang. Tapi kemudian saya tidak yakin media kami harus menghapus itu karena ada banyak hal berbeda yang membuat orang-orang salah memahaminya. Saya rasa mereka dengan sengaja salah paham,” kata suami Priscilla Chan itu.

Lebih lanjut, Zuckerberg merasa tidak tepat bagi Facebook untuk menghapus setiap konten yang salah setiap saat. Kendati nggak menghapusnya, Zuckerberg mengatakan pihaknya akan membenamkan konten itu dan menimpanya dengan konten-konten lain agar hanya sedikit yang melihatnya.

Beberapa jam setelah wawancara tersebut, Zuckerberg diketahui mengirim surat elektronik (surel) untuk mengklarifikasi pernyataannya.

"Saya menyukai percakapan kita kemarin, tapi ada satu hal yang harus saya jelaskan. Saya pribadi menemukan penyangkalan kasus Holokaus yang sangat menyinggung. Jadi, saya tidak benar-benar bermaksud membela niat orang yang menyangkalnya," tulis Zuckerberg dalam surel tersebut.

Sayang, wawancara itu telanjur menjadi viral dan mendapat komentar dari sejumlah pihak termasuk Kepala Anti-Defamation League Jonathan Greenblatt.

“Facebook seharusnya punya kewajiban etis dan moral untuk tidak memperbolehkan penyebaran ini,” ujarnya.

Duh duh! Kalau menurutmu bagaimana, Millens? (IB15/E04)