Peran Guru Sejarah dalam Memperbaiki Bangsa Ini

Menjadi seorang guru sejarah bukanlah profesi mudah lantaran ia berhadapan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah negara. Kesalahan mengulas sejarah akan berakibat fatal. Kekurang pengetahuan seorang guru sejarah juga bisa berbahaya bagi masa depan suatu bangsa.

Peran Guru Sejarah dalam Memperbaiki Bangsa Ini
pembelajaran di kelas. (foto: google.com)

inibaru.id - Menjadi seorang guru sejarah bukanlah profesi mudah lantaran ia berhadapan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah negara. Kesalahan mengulas sejarah akan berakibat fatal. Kekurangpengetahuan seorang guru sejarah juga bisa berbahaya bagi masa depan suatu bangsa.

Sudah banyak terjadi, pemutarbalikan fakta sejarah menjadi benih kebencian, kemudian memicu perseteruan antarindividu dalam satu negara, dan berujung perang sipil. Maka, di bahu para guru sejarah lah visi bangsa ini digantungkan.

Beberapa tahun belakangan, Indonesia mengalami krisis toleransi. Berbagai gerakan radikalisme, intoleransi, dan bahkan terorisme, merebak di mana-mana. Buya Syafii Maarif menilai, peran guru sejarah memiliki peran penting dalam menekan berkembangnya gerakan atau paham-paham semacam itu.

"Sejarah adalah jembatan masa lampau,saat kini, dan masa mendatang,” ungkap Mantang Ketua PP Muhammadiyah itu di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Sabtu (8/7/2017).

Menurut Buya Syafii,bertahannya negeri ini akan sangat bergantung dari masyarakatnya. Nah, di sinilah peran guru sejarah sangat diperlukan. Mereka bisa menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menautkan masa lalu dengan masa kini, guna mencapai masa depan yang lebih baik.

Di hadapan para guru sejarah se-DIY dan Jateng, Maarif memaparkan, pencegahan paham radikalisme dan benih intoleransi merupakan tanggung jawab semua warga, terutama orang-orang terdidik yang memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Bagi para guru, tambahnya, pencegahan gerakan semacam itu bisa dilakukan lebih dini, yakni semenjak mereka berada di ruang kelas.

"Guru sejarah punya posisi strategis dalam menangkalpaham-paham negatif untuk menjaga negeri ini dari perpecahan,"kata dia, yang disampaikan dalam rangka sarasehan guru sejarah bertajuk “Guru Sejarah Pengawal NKRI” ini.

Pengalaman sejarah atau kemanusiaan suatu bangsa harusnya bisa dijadikan sebagai cermin, sehingga pada ujungnya, sejarah bisa berfungsi unguk mencerahkan kehidupan bangsa, bukannya sebaliknya.

"Sejarah baru bermakna andaikan para guru sejarah bisa menghayati persoalannya. Betul-betul menghayati. Ibarat orang berenang di lautan sejarah, para guru itu harus menyelam hingga ke dasarnya, jangan hanya di permukaan. Guru sejarah harus tahu hakekat sejarah, tahu hakekat kemanusiaan,"paparnya panjang lebar.

Ia mengungkapkan, sebagai sumber informasi tentang manusia yang tidak pernah habis, keberadaan sejarah harus diwariskan. Salah dalam memberikan informasi, menurutnya, bisa berakibat fatal. Maka, sekali lagi, peran guru sejarah penting agar sejarah yang disampaikan memiliki makna dan sesuai fakta.

Selanjutnya Maarif juga berpesan, adalah juga menjadi peran guru sejarah untuk membuat murid-muridnya tertarik menilik sejarah bangsanya. Penyampaian sejarah harus menarik, jangan kering. Maka, guru sejarah harus memiliki wawasan yang luas dan minat membaca yang tinggi.

"Gurunya harus mengetahui banyak hal, misalnya filsafat, agama, sastra, dan lain sebagainya, sehingga pendekatanya lebih komprehensif dan holistik,"ulasnya. (GIL/IB)