Krisis Moral, Potret Suram Pendidikan Indonesia

Krisis Moral, Potret Suram Pendidikan Indonesia
Pendidikan memegang peranan penting (Foto: www.fashionpulis.com )
2k
View
Komentar

Inibaru.id - Pendidikan memegang peranan penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan. Sehingga bangsa ini tidak hanya berkutat pada posisi kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi.

Selain peningkatan kualitas SDM dalam menghadapi proses persaingan global, ada hal yang lebih penting untuk dipertimbangkan dalam pendidikan Indonesia. Hal tersebut adalah upaya proses penyadaran, pencerahan, pemberdayan dan perubahan tingkah laku.

Alih-alih ingin mencetak generasi yang dapat bersaing dengan dunia global, pendidikan Indonesia justru mendapat tamparan keras dengan berbagai kejadian memprihatikan selama beberapa tahun terakhir. Kasus kekerasan, pemerkosaan, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, dan menjamurnya remaja geng motor dalam lembaga pendidikan menjadi kabar duka bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan adanya krisis moral yang terjadi pada pelajar Indonesia.

Tentu kita masih ingat kejadian yang menimpa Amirulloh Adityas Putra (19), taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh seniornya. Selain itu kasus yang menimpa siswa SDN di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, yang tewas setelah dipukuli oleh teman sekelasnya ketika guru sedang keluar untuk mengisi tinta spidol, ditambah lagi kasus penganiayaan siswa kelas V SD di Jakarta Timur dan masih banyak lagi kejadian lainnya.

Berdasarkan data International Center for Research on Women (ICRW), pada 2015 setidaknya sebanyak 84% peserta didik di Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.

Tidak hanya itu, 75% siswa mengaku pernah melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Fakta lain mengungkapkan, pelaku kekerasan tidak hanya dilakukan oleh murid, tetapi oknum guru atau petugas sekolah. Data yang sama mengungkapkan 45% murid laki-laki di Indonesia mengaku pernah menerima tindak kekerasan dari guru maupun petugas sekolah. Adapun, 22% siswa perempuan menyebutkan pernah mengalami hal serupa.

Tawuran antar pelajar juga menyumbang tinggi daftar angka krisis moral pendidikan Indonesia. Salah satu contohnya yaitu tawuran antar pelajar yang terjadi di Ciputan, Tangerang Selatan Jumat (7/4) lalu. Tak tanggung-tanggung dalam melakukan aksinya, beberapa diantara mereka bahkan membawa senjata tajam. Data lain menyebutkan per Februari 2017 telah terjadi dua tawuran lebih yang melibatkan pelajar Indonesia, salah satunya adalah tawuran antar siswa SMK Adi Luhur dan SMK Bunda Kandung. Akibat tawuran tersebut seorang siswa tewas akibat luka karena benda tajam.

Kasus Amoral

Belum selesai soal kekerasan dan tawuran yang dilakukan oleh para pelajar Indonesia, lagi-lagi kasus amoral terjadi. Bagaimana tidak, seorang anak didik kelas 6 SD diduga mencabuli kurang lebih 10 rekan dan adik kelasnya sendiri. Hal tersebut hanya sebagian contoh kecil saja. Masih banyak tindakan asusila yang dilakukan oleh pelajar Indonesia. Sungguh miris, generasi muda yang konon menjadi penerus bangsa, justru melakukan tindakan amoral.

Berdasarkan rentetan daftar kasus diatas, menunjukkan betapa mirisnya potret suram pendidikan di Indonesia. Namun demikian, tak bisa dibenarkan jika hanya menyalahkan lembaga pendidikan saja. Peran orang tua dalam mengawasi tumbuh kembang anak terutama dalam pesatnya perkembangan teknologi menjadi faktor pemicu yang tak kalah besar dalam mencegah munculnya tindakan amoral pada anak.

Momentum bulan Pendidikan Nasional ini menjadi sebuah peringatan dan perenungan bersama mengenai kondisi Pendidikan Indonesia saat ini. Sudah menjadi tanggung jawab bersama dalam mengemban amanah konstitusi negara. Yakni mewujudkan dan memajukan pendidikan dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian tindakan amoral yang terjadi saat ini dapat reda secara perlahan. (NA)