Hibah 1 Juta Dolar AS untuk 4 Penelitian

Di lingkungan akademik, hibah sangat penting untuk operasional penelitian yang hasilnya bisa bermanfaat untuk kepentingan umat manusia.

Hibah 1 Juta Dolar AS untuk 4 Penelitian
(Reuters)

Inibaru.id - Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) mengumumkan empat kerja sama penelitian Partnerships for Enhanced Engagement in Research (PEER) antara ilmuwan Indonesia dan Amerika Serikat.

Dengan pelaksana US National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, empat hibah penelitian ini akan mengumpulkan data yang dapat dijadikan masukan untuk menyusun kebijakan dan mengambil keputusan pengelolaan dalam bidang restorasi gambut, pendidikan Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM) perubahan lingkungan dan bencana alam di daerah metropolitan dan pengelolaan stok ikan tuna.

“Amerika Serikat merasa bangga dapat mendorong penelitian paling mutakhir antara ilmuwan Indonesia dan Amerika,” begitu kata Pelaksana Tugas Direktur USAID Ryan Washburn dari siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia seperti dilansir Liputan6 (27/10/2017).

“USAID percaya bahwa dengan kekuatan sains, teknologi, inovasi, dan kemitraan, kita dapat mengembangkan solusi terobosan untuk mengatasi berbagai permasalahan global yang paling menantang,” tambahnya.

Baca juga:
Para Pendidik Kita di Negeri Orang
Bahasa Kita Diminati di Finlandia

Apakah keempat empat hibah penelitian yang menjadi tantangan masyarakat Indonesia saat ini? Tema pertama yaitu penelitian tersebut bertajuk, “Mengembangkan Keragaman Agroforestri di Lahan Gambut yang Telah Dibasahi Kembali di Indonesia” lewat peneliti utama Dr Sonya Dewi.

Acara tersebut dihadiri oleh pihak Center for International Forestry Research (CIFOR), Forest Research and Development Centre (FRDC), Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya (UPR).

Sementara itu, dari pihak Amerika Serikat adalah Randall Kolka dan USDA Forest Service Northern Research Station dari institusi yang akan mewakili lembaga AS.

Tema kedua bertajuk, "Integrated Science-Literacy Enactments (ISLE) dalam Pengajaran Sains Terpadu untuk Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Memberikan Pendidikan STEM". Lewat peneliti utama, Dr Irwandi. Mitra Indonesia Universitas Syiah Kuala, mitra dari AS Eugenia Etkina, dan lembaga AS berasal dari Graduate School of Education, Rutgers, The State University of New Jersey.

Tema penelitian ketiga bertajuk, "Meneliti Struktur Stok Ikan Tuna di Wilayah Sulu Sulawesi." Lewat peneliti utama Dr Ida Ayu Astarini, mitra Indonesia berasal dari Universitas Udaya dan Bionesia, mitra AS bernama Allen Collins dan lembaga AS adalah National Systematics Lab of NOAA’s Fisheries Service, and Smithsonian Institution.

Baca juga:
Bullying Ternyata Juga Bisa Memberikan Dampak Buruk Bagi Pelakunya
Cetak Technopreneur via The Hub

Untuk tema terakhir berupa "Mengintegrasikan Strategi Adaptasi Perubahan Iklim dan Strategi Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Aglomerasi Kebijakan untuk Perencanaan Kota Metropolitan di Daerah Pesisir". Lewat peneliti utama Dr Harkunti Pertiwi Rahayu, mitra Indonesia berasal dari Institut Teknologi Bandung, mitra AS bernama Louise K Comfort dan lembaga AS adalah University of Pittsburgh.

Program hibah PEER kali ini merupakan siklus yang keenam. Empat hibah penelitian dari Indonesia diseleksi dari 450 proposal yang diajukan dari seluruh dunia pada tahun ini.

Siklus pendanaan USAID PEER tahun 2017 juga telah dibuka dan saat ini menerima proposal. Peminat diharapkan mengajukan proposal penelitian yang dapat mengatasi kesenjangan pengetauan ilmiah dan berbagai bidang utama pembangunan di Indonesia.

Untuk siklus ketujuh, hibah PEER akan diberikan kepada pemenang terpilih dengan jangka waktu penelitian hingga dua tahun dan dana hingga US$ 200.000. Batas waktu penyerahan proposal adalah 12 Januari 2018. (EBC/SA)