Hari Laut Sedunia, Refleksi Sederet Masalah Kelautan Indonesia

Inilah sederet masalah kelautan Indonesia

Hari Laut Sedunia, Refleksi Sederet Masalah Kelautan Indonesia
Setiap 8 juni masyarakat dunia memperingati World Ocean Day (foto: dfo-mpo.gc.ca)
952
View
Komentar

inibaru.id - Tak banyak yang tau bahwa tiap 8 Juni seluruh dunia memperingati Hari Laut Sedunia. Membincang Hari Laut Sedunia, seolah sedang membincang pula terkait laut Indonesia. Mengapa demikian? Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan luas wilayah perairan hampir 70 persen dari luas keseluruhan Indonesia. Berdasarkan luas wilayah perairan Indonesia tersebut, menjadikan Indonesia memiliki potensi kekayaan yang begitu melimpah.

Bermacam-macam jenis flora dan fauna air di Indonesia membuat negeri ini semakin kaya. Kekayaan biota laut Indonesia sangat berpotensi untuk mensejahterakan rakyat Indonesia ditambah lagi dengan sumberdaya kelautan yang dimiliki Indonesia masih banyak yang belum dimanfaatkan, ibarat raksasa yang masih tidur (Sleeping Giant) potensi Kelautan dan Perikanan Indonesia harus mampu di eksplorasi secara bijak untuk kesejahteraan rakyat.

Meskipun demikian, Indonesia yang memiliki kekayaan laut maha dahsyat, di usia ke 71 ini ternyata masih menyimpan permasalahan pelik di multi sektor.

Baca juga:
Asap Rokok Ancam Pendengaran Balita, Masih Tega?
Penting! Kenali Teknik Jawaban Anak yang Bertanya Tentang Teroris

Salah satu permasalahan ironis yang masih nampak didepan mata kita yakni permasalahan kesejahteraan nelayan dan para pelaku usaha perikanan kasta terendah. Sejak Indonesia merdeka ekonomi disektor kelautan dan perikanan dikuasai oleh para pemegang modal yang mampu mempermainkan kondisi perputaran uang di sektor kelautan dan perikanan.

Dalam hal ini, faktor keberpihakan pemerintah masih menjadi sesuatu yang sentral bagi penyebab kemiskinan nelayan. Pemerintah memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan kebijakan. Kebijakan pemerintahlah yang ditunggu dan diharapkan oleh para nelayan untuk mewujudkan kesejahteraan mereka.

Selain itu, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan menyusul beberapa kasus kelautan Indonesia yang terjadi belakangan ini yakni illegal fishing. Hal tersebut menjadi sangat penting dengan tak hanya mempertimbangkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha kecil namun juga kewibawaan sebuah negara.

Salah satu contoh yakni kasus kapal Kway Fee 10078 yang diduga melakukan illegal fishing, di Perairan Natuna. Kapal Kway Fee 10078 yang terbukti melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut justru mengelak ditangkap oleh petugas Indonesia dengan penghalangan pemeriksaan oleh aparat kapal keamanan laut China.

Alih-alih ingin menciptakan kesejahteraan melalui sektor maritim, lagi-lagi Indonesia kembali dihadapkan dengan masalah kelautan. Pemanasan global yang terjadi saat ini dianggap sebagai salah satu biang masalah pada kerusakan kelestarian laut Indonesia.

Baca juga:
Sahur Kenyang Ala Anak Kos Tapi Cepat Lapar? Ini Alasannya
Hanafi Rais, 2 Pasal Ganjal Pengesahan UU Terorisme

Reef Check Indonesia dalam rilisnya pada 2016 lalu memaparkan sejumlah temuan tentang perubahan iklim yang mempengaruhi sektor kelautan dan perikanan. Pemanasan global yang mendorong terjadinya pemutihan karang massal di 2009 dan 2010 berdampak pada hingga 40-60 persen terumbu karang di Indonesia. Fenomena yang sama menyapu 60 persen terumbu karang pada 1998 yang menghasilkan hamparan karang mati. Alhasil, suhu permukaan laut yang makin panas tersebut berimbas pada penurunan tangkapan ikan dan pemutihan karang.

Selain kerusakan biota laut akibat global warming, ulah nelayan dan penangkap ikan tak bertanggungjawab juga menjadi sorotan tajam penyebab kerusakan biota laut. Diantaranya penggunaan pukat harimau (trawl), penggunaan bom (dynamite fishing), dan penggunaan racun potas (cyanide fishing). Penggunaan dynamite dan cyanide fishing selain dapat menghabiskan populasi ikan, juga mengakibatkan kerusakan ekosistem di sekitarnya seperti terumbu karang.

Sekali lagi, dalam hal ini kesadaran individu serta ketegasan pemerintah diuji. Dari rentetan masalah diatas menjadikan peringatan Hari Laut Sedunia kali ini sebagai sebuah bentuk refleksi bersama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat serta peduli terhadap kelestarian biota laut.(NA/IB)