Dua Siswa Ini Mampu Gerakkan Lengan Robot dengan Pikiran

Penemuan ini merupakan kabar baik bagi para penyandang disabilitas lengan.

Dua Siswa Ini Mampu Gerakkan Lengan Robot dengan Pikiran
Keyasa Abimanyu Nugroho (kiri) dan Reefo Aththobarani (kanan) sedang memperlihatkan lengan robot ciptaannya pada pameran sains yang berlangsung di Balai Kartini Jakarta. (Beritagar/Ivan)

Inibaru.id – Mengendalikan robot dengan pikiran ternyata tak hanya ada di film-film fiksi ilmiah. Dalam ajang Indonesia Science Expo (ISE) 2017, Keyasa Abimanyu Nugroho dan Reefo Aththobarani berhasil mewujudkannya dengan menciptakan lengan robot (roboarm) yang dikendalikan melalui otak manusia.

Dilansir dari Beritagar, Rabu (25/10/2017), dua siswa asal SMAN 2 Depok tersebut memamerkan hasil karya mereka dalam pameran yang digelar di Balai Kartini Jakarta ini, dari 23 hinggga 26 Oktober ini.

Keduanya menggunakan teknologi Brain Computer Interface (BCI) untuk menghubungkan otak dengan lengan robot. Teknologi ini yang kemudian mampu mengirimkan sinyal gelombang otak manusia ke komputer.

Baca juga: Koleksi Indonesia Terbanyak di Asian Library Belanda

Keyasa mengaku, ide menciptakan roboarm bermula dari rasa simpati keduanya terhadap banyaknya orang yang tidak memiliki atau anggota tubuh lengkap atau kehilangan kemampuannya lantaran kecelakaan atau sakit.

“Mereka kurang beruntung. Kami cukup prihatin dengan keadaan tersebut, hingga keluarlah ide roboarm ini,” ungkapnya.

Roboarm merupakan jenis robot berbasis program Arduino yang dilengkapi dengan sebuah alat pendamping berupa perangkat kepala (headset) besutan MindWave Mobile.

Reefo mengatakan, MindWave Mobile mereka dapatkan dari toko daring Amazon dengan harga 94 dolar AS (RP1,2 jutaan), sementara alat kontrol mikro Arduino bisa dibeli seharga kurang lebih Rp 200 ribu.

“Membuat roboarm tidak terlalu sulit. Kami hanya membutuhkan waktu sebulan untuk menghasilkan purwarupa ini,” ungkap Reefo.

Bahkan, dirinya menambahkan, pengoperasian roboarm pun tergolong mudah. Pengguna hanya perlu melakukan proses berkenalan (pairing) dulu antara perangkat headset dengan Arduino menggunakan konektivitas bluetooth. Setelah itu perangkat tinggal dipasang ke kepala dan fokus pada satu objek.

Baca juga: Ruangbelajar, Platform Terbaru dari Bimbel Online Ruangguru

Arduino kemudian akan mulai menerjemahkan sinyal menjadi perintah untuk menghidupkan LED. Alat dapat bergerak karena sinyal otak menghidupkan LED dan memicu relay untuk menggerakkan jari roboarm tersebut.

Keyasa menilai, lengan robot ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Saat ini mereka sudah menghabiskan dana tak kurang dari Rp 5 juta untuk penelitian mereka. Keduanya berharap, penelitian ini dapat membantu orang yang mengalami disabilitas lengan suatu saat nanti. (GIL/SA)