Dua Lidah Api Memancar dari Matahari. Berbahayakah?

Dikabarkan suar inilah yang menganggu komunikasi radio, GPS, dan listrik di permukaan Bumi. Fenomena alam ini ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory NASA.

Dua Lidah Api Memancar dari Matahari. Berbahayakah?
Suar Surya (Foto: Pixabay)

Inibaru.id - Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mencatat kemunculan dua lidah api atau suar surya terjadi pada Rabu, 6 September 2017 lalu. Suar ini diklaim sebagai yang terkuat selama 12 tahun terakhir.

Dilansir dari Antara, suar surya berintensitas tinggi yang memancar pada Rabu merupakan fenomena kedua yang tercatat paling kuat sejak awal siklus matahari ini pada Desember 2008.

Dikabarkan suar inilah yang menganggu komunikasi radio, GPS, dan listrik di permukaan Bumi. Fenomena alam ini ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory NASA.

Menurut BMKG-nya AS, Space Weather Prediction Centre (SWPC), suar tersebut mengganggu komunikasi radio frekuensi tinggi selama satu jam di sisi Bumi yang menghadap matahari dan komunikasi frekuensi rendah yang digunakan dalam navigasi.

“Radiasi yang berbahaya dari suar tidak cukup kuat berpengaruh pada manusia di lapangan, tetapi sangat kuat dan bisa mengganggu di lapisan atmosfer tempat gelombang komunikasi dan GPS," demikian penjelasan NASA, dikutip Dream.co dari Newsweek.

Sehari setelah fenomena itu, NASA mengeluarkan peringatan tentang dampak yang bisa ditimbulkan suar tersebut pada Kamis, 7 September 2017. Peringatan yang menyatakan akan adanya peningkatan suhu akibat radiasi suar tersebut masih berlaku hingga beberapa hari ke depan.

Sementara, SWPC mengatakan suar api di Matahari adalah semburan radiasi yang kuat dan mampu mengganggu komunikasi radio di bumi dalam cakupan yang luas.

SWPC mengatakan radio berfrekuensi tinggi akan mengalami gangguan dan tak bisa siaran, sedikitnya dalam waktu satu jam. Kemampuan perangkat komunikasi frekuensi rendah yang biasanya dipakai dalam navigasi, juga mengalami degradasi selama satu jam.

Meski cukup berbahaya, dua suar yang muncul dalam pekan ini diprediksi tidak akan timbul lagi dalam beberapa tahun ke depan. Ini lantaran siklus matahari yang dimulai sejak 2008 lalu menunjukkan penurunan aktivitas.

Pada fase ini, kemunculan suar akan semakin langka. Waktu terdekat kemunculan kembali suar tersebut diprediksi akan terjadi pada 2019 dan 2020.

Tetapi, beberapa siklus matahari terakhir membuat ilmuwan keheranan. Sebab, bintik matahari yang kerap muncul dalam periode 2 tahunan sudah tidak ada lagi dalam kurun 100 tahun terakhir.

Kajian data pengamatan matahari dalam 30 tahun terakhir menunjukkan distribusi medan magnet semakin menipis. Selain itu, para ilmuwan mendapat temuan laju rotasi matahari telah berubah. (GIL/IB)