Berita Hoax Bermuatan Politik Mendominasi

Seperti yang bisa Anda lihat dari grafik, persentase persebaran berita hoax dengan topik politik mendominasi di angka 91,80 %.

Berita Hoax Bermuatan Politik Mendominasi
Hoax Politik (Foto : google)

inibaru.id - Akhir-akhir ini penyebaran berita hoax semakin marak seiring diadakannya Pilkada serentak pada pertengahan Februari lalu. Meningkatnya pertumbuhan berita hoax tersebut memang kerap terjadi pada momentum-momentum tertentu, seperti pada waktu itu ketika mendekati pemilihan presiden 2014.

Dari situ dapat dianalisa bahwa berita-berita hoax dengan persentase terbesar penyebarannya adalah berita dengan topik politik. Seperti yang tersaji pada data yang diungkap Masyarakat Telematika (Mastel). Sebagian besar porsi penyebaran berita hoax di Indonesia berasal dari berita atau informasi yang bermuatan politik.

Seperti yang bisa Anda lihat dari grafik, persentase persebaran berita hoax dengan topik politik mendominasi di angka 91,80 %. Disusul pada posisi kedua, topik seputar SARA pun cukup mendominasi dengan persentase 88,60%. Tak dimungkiri bahwa isu SARA menjadi isu yang “seksi” untuk dimanipulasi terkait tendensi politik.

Jauh di bawah kedua topik tersebut, pada posisi ketiga berita hoax dengan persentase persebarannya sebanyak 41,20% adalah berita tentang isu kesehatan. Sementara pada posisi keempat dan kelima ada berita hoax tentang makanan dan minuman serta topik yang berkedok penipuan untuk mendapatkan uang. Masing-masing topik tersebut memiliki persentase 32,60% dan 24,60%. Kedua topik tentang sosial politik dan SARA terpaut jauh mendominasi dari topik lainnya yang hanya di bawah 50%.

Hal itu terjadi sebenarnya bukan tanpa alasan. Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Deddy Mulyana menuturkan bahwa masyarakat kita cenderung senang membahas aspek-aspek yang berkaitan dengan kekerasan, sensualitas, drama, intrik dan misteri.

“Politik adalah bidang yang memiliki aspek-aspek tersebut. Tidak heran kalau berita hoax sering sekali terjadi pada tema politik, khususnya saat terjadi perebutan kekuasaan yang menjatuhkan lawan seperti pilkada.”

Deddy menambahkan, rendahnya kecerdasan literasi masyarakat Indonesia juga menjadi faktor penyebab hoax mudah dikonsumsi. (IP)