Pemerintah Kembali Menambah Utang, Menteri Luhut Tetap Santai

Semenjak Presiden Jokowi mengambil alih kekuasaan, cukup banyak isu yang beredar di media sosial yang menyebutkan bahwa utang Negara terus membengkak. Bahkan, ada pihak yang menuding bahwa pemerintahan sekarang justru menambah beban utang Negara hingga Rp 1.000 triliun lebih banyak jika di bandingkan pemerintahan sebelumnya.

Pemerintah Kembali Menambah Utang, Menteri Luhut Tetap Santai
Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan masyarakat (Foto: google)

Semenjak  Presiden Jokowi mengambil alih kekuasaan, cukup banyak isu yang beredar di media sosial yang menyebutkan bahwa utang Negara terus membengkak. Bahkan, ada pihak yang menuding bahwa pemerintahan sekarang justru menambah beban utang Negara hingga Rp 1.000 triliun lebih banyak jika di bandingkan pemerintahan sebelumnya. Melihat pemberitaan soal utang negara yang semakin marak ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan justru menanggapi isu ini dengan santai saja.

Menurut Luhut, pemerintah sekarang wajar menambah utang karena memang di gunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan yang produktif. Luhut menambahkan kritikan di media social tentang hutan ini tidak berdasar. Beliau menyebutkan bahwa asalkan utang ini adalah utang produktif, seharusnya tidak menjadi masalah karena memiliki manfaat yang lebih besar bagi masa depan bangsa dan negara.

Luhut sendiri sempat menantang pihak-pihak yang mengritik pertambahan utang Negara dan meminta mereka datang padanya untuk menunjukan di mana kesalahannya. Bagi dirinya, utang Negara bias di anggap sebagai hal yang tidak tepat andai alokasi dana ini tidak benar dan justru hanya di manfaatkan untuk menutup utang lainnya atau biasa di sebut dalam istilah gali lubang tutup lubang.

Ia menjelaskan tentang skema utang negara di pemerintahan Presiden Jokowi ini sebagai skema B to B sehingga seharusnya tidak menjadi masalah. Hal iniberarti, ada pihak-pihak yang sudah bertanggung jawab untuk membiayai proyek-proyek pemerintah yang memang sedang gencar dilakukan di berbagai wilayah Tanah Air.

Luhut pun melanjutkan, anggapan masyarakat tentang banyaknya utang pemerintah saat ini. Iatak menampik hal tersebut. Hanya saja, menurut Luhut, jika kita membandingkan utang ini dengan rasio GDP, utang Negara masih dalam batas wajar dan tidak pernah melebihi 30 persen, tepatnya di sekitar 27 persen. Pemerintah sendiri berkomitmenn untuk tetap menjaga rasio utang negara di sekitar angka tersebut dan tidak lagi bertambah.

Sebagai informasi, utang pemerintah Indonesia sendiri memang semakin bertambah. Pada akhir bulan Mei 2017 ini saja totalnya sudah mencapai Rp 3.672,33 triliun. Jumlah ini naik sekitar Rp 4.92 triliun jika di bandingkan dengan utang Negara pada bulan April 2017 yang hanya sekitar 3.667.41 triliun.

Selain itu, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan atau RAPBN-P untuk tahun anggaran 2017 juga menunjukkan fakta di mana pemerintah ternyata akan menambah utang Negara pada angka sekitar Rp 433 triliun hingga Rp 467,3 triliun.  Memang angka ini masih belum di tentukan dan ada kemungkinan akan naik lagi. Hal inilah yang menjadi perbincangan banyak pihak karena di anggap membebani kondisi perokonomian seluruh masyarakat Tanah Air termasuk anak cucu di kita masa depan.(AS/IB)