Jumlah Start-up Baru Indonesia Anjlok Hingga 23 Persen

Kampanye “Sejuta Start-up” yang terus digaungkan pemerintah dan masyarakat tahun ini ternyata berbanding terbalik dengan menurunnya jumlah perusahaan rintisan baru pada Kuartal Kedua 2017. Perlu evaluasi serius.

Jumlah Start-up Baru Indonesia Anjlok Hingga 23 Persen
Jumlah start-up Indonesia mengalami tren negatif pada Kuartal Kedua (Q2) 2017. (Innorobo.com)

Inibaru.id – Perusahaan rintisan atau start-up di Indonesia mengalami penurunan pada kuartal kedua (Q2) 2017 dibanding tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan Analis Senior East Ventures, Elisa Suteja, dalam acara tahunan Tech in Asia Jakarta 2017.

Dilansir dari CNN Indonesia, Senin (23/10/2017), Elisa mengatakan, berdasarkan data yang dikumpulkan East Ventures, jumlah start-up baru tahun ini mengalami penurunan hingga 23 persen dibanding Q2 2016.

Baca juga: Targetkan Transaksi US$ 130 Miliar, E-commerce RI Harus Berbenah

Kendati bukan satu-satunya faktor, Elisa mengungkapkan, merosotnya jumlah perusahaan rintisan baru itu juga memengaruhi jumlah investasi yang dikucurkan East Venture

“Investor makin lama makin dewasa. Maksud saya, kita juga lihat apa yang bisa kita invest, apa yang nggak. Ada yang tumbuh, ada yang nggak. Ada yang cocok buat kami, ada yang nggak,” ujarnya.

Menurut dia, tidak semua perusahaan yang tidak mereka berikan dana adalah perusahaan yang tidak bagus. East Venture juga mempertimbangkan partner strategic lain yang mungkin bisa memberikan bantuan lebih cocok pada startup.

“Bukan berarti yang nggak kami danai itu nggak bagus, tapi barangkali ada strategic investor lain yang bisa bantu mereka. Jadi alasan spesifik kami bisa banyak hal,” tutur dia.

Namun begitu, Elisa enggan mengatakan berapa jumlah investasi yang sudah dialirkan pemodal bagi startup sasaran dalam Q2 ini. Dia juga tidak bisa menyebutkan seluruh perusahaan rintisan yang sudah mendapatkan investasi selama 2017.

Sebelumnya, Managing Director East Venture Asia Tenggara, Willson Cuaca, mengatakan, puncak seed funding telah terjadi pada 2015 lalu. Dikutip dari Tech in Asia, puncaknya terjadi ketika banyak pemodal ventura (venture capital/VC) baru dan keluarga-keluarga kaya mulai memberikan investasi kepada para startup.

Baca juga: E-commerce Menggeliat, Ritel Konvensional Merana

Sementara itu, Elisa menyebutkan bahwa East Ventures mengalirkan 80 persen modal pada perusahaan rintisan di Indonesia. 20 persen lainnya dikucurkan pada perusahaan lain di regional Asia Tenggara.

Sebagian besar startup yang mendapatkan investasi berasal dari sektor e-commerce dan fintech. Perusahaan ini adalah salah satu investor Tokopedia dan Traveloka yang merupakan dua dari tiga startup unicorn di Indonesia. (GIL/SA)