Harga Karet Mentok, Petani Utang ke Tauke

Harga karet jatuh, petani penyadap karet cari kayu bakar atau utang ke tauke untuk mencukup kebutuhan hidup.

Harga Karet Mentok, Petani Utang ke Tauke
Petani Karet (riaupos/jpg)

Inibaru.id - Para petani karet di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, mulai kelimpungan menghadapi anjloknya harga karet. Pasalnya, harga getah karet di tingkat petani mentok dalam kisaran Rp 6.700 - Rp7.000 per kilogram.

Mereka berharap, pada musim sekarang ini harga komoditas ekspor tersebut bertahan di angka Rp 8.000/kilogram.

Diberitakan JPNN.com (21/10/2017), tak hanya di Sijunjung, petani di tempat lain juga mengeluhkan hal serupa. Di Nagari Muaro Bodi, Kecamatan IV Nagari, harga getah karet yang diproduksi petani setempat umumnya bertengger dalam kisaran Rp 6.700 per kilogram. Harga paling tinggi sejumlah Rp 7000/kilogram. Di tempat itu, sistem panen dilakukan setiap empat hari, bergantung atas cuaca atau kondisi alam.

Hendri (37), seorang petani Nagari Muaro Bodi, menyebutkan, kondisi harga sedemikian rendah tersebut sudah berlangsung semenjak dua pekan terakhir.

Baca juga:
Jumlah Start-up Baru Indonesia Anjlok Hingga 23 Persen
Pesona Topeng Bulu ala Indian dari Blitar pada IQE Ke-5

Padahal pada musim Lebaran Haji bulan September lalu harga getah karet masih bertahan dalam kisaran Rp 8000/kilogram. Mereka berharap, harga komoditas unggulan Negeri Lansek Manih ini dapat kembali naik.

“Hasil penjualan karet saat ini bahkan tak mampu menutupi biaya hidup sehari-hari, maka warga terpaksa harus berutang ke tauke,” katanya.

Senada dengan Hendri, Yanuar (47), warga Pulasan, Kecamatan Tanjung Gadang, juga mengeluhkan harga karet di tingkat petani yang menurutnya tak wajar, yakni dalam kisaran Rp7.000 per kilogram.

Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sekarang idealnya harga karet adalah Rp 10.000 per kilogram. Dengan begitu tiap hektare lahan barulah dapat menutupi kebutuhan hidup keluarga para petani.

Tak termungkiri untuk menutupi biaya hidup keluarga, ada petani karet yang setiap sepulang menyadap karet (siang hari), dia mencari kayu bakar untuk selanjutnya dijual ke kedai nasi atau rumah makan. Kayu bakar itu dijual per ikat seharga Rp 6000.

“Kita harus cari pendapatan sampingan untuk menutupi biaya hidup,” ujar seorang petani.

Baca juga:
Menko Darmin Pastikan Indonesia Swasembada Beras Tahun Ini
Perdagangan RI Terganggu bila AS dan Korut Jadi Perang

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan (Perindag) dan Koperasi Kabupaten Sijunjung, M Yasri turut ptihatin atas melesunya harga karet di Kabupaten Sijunjung. Pihaknya berjanji dalam waktu dekat akan mencoba duduk bersama dengan pihak-pihak terkait, hingga standar harga dapat terkendali.

“Pemerintah Daerah pada prinsipnya juga terus berusaha untuk mempertahankan stabilitas harga karet,” tandas M Yasri.

Dia menambahkan, produksi karet Kabupaten Sijunjung saat ini mencapai lebih 63.000 ton per tahun, dengan luas lahan perkebunan yang dikelola secara intensif seluas 5.123 hektare, atau 1,5 persen dari luas kabupaten. Karet Sijunjung tercatat komoditas karet terbaik secara nasional. (EBC/SA)