Yang Melintas Zaman dari Ketandan: Toko Roti Djoen
Toko Roti Djoen. (Nationalgeographic.grid/Sigit Pamungkas)

Yang Melintas Zaman dari Ketandan: Toko Roti Djoen

Laiknya toko roti tempo dulu di Indonesia, Toko Roti Djoen masih mempertahankan beberapa hal sejak berdiri puluhan tahun silam, mulai dari peralatan hingga resep rotinya.

Inibaru.id – Sebagian pengusaha roti mungkin beranggapan, semakin banyak produk yang terjual dan kian luas distribusinya, menjadi kunci kesuksesan usaha. Namun, mungkin ini nggak berlaku bagi Perusahaan Roti Kuwe Makanan & Minuman Djoen atau yang lebih dikenal sebagai Toko Djoen.

Selain menyediakan roti nan enak, toko yang berada di Jalan Ahmad Yani No 50 Yogyakarta itu juga menjual kenangan. Yap, bagi warga Yogyakarta, toko ini menjadi tempat bernostalgia. Nggak sedikit pengunjung yang datang, memesan roti pisang misalnya, sembari mengenang masa kecilnya.

Toko Djoen nggak jauh berbeda dengan toko roti tempo dulu di Indonesia. Mereka memproduksi roti skala rumahan, nggak membuka cabang, dengan pemasaran yang nggak begitu luas, karena produknya nggak tahan lama.

Roti Buaya, salah satu produk di Toko Djoen. (Twitter/asbonbon)

Kendati terlihat monoton, kemampuan Toko Djoen bertahan selama lebih dari tujuh dekade menunjukkan toko tersebut cukup sehat.

Laiknya kebanyakan usaha warga Tionghoa di Jawa yang dikelola turun-temurun, usaha yang didirikan Tan Qian Ngau ini juga diwariskan ke anaknya, Haryono Waluyowati. Sementara, adik Haryono mendirikan Toko Roti Djoen Moeda yang lebih modern dengan produk seperti bakery pada umumnya.

Saat ini, Toko Djoen dikelola Hartina, generasi keempat Djoen. Roti buaya dan roti bantal menjadi beberapa produk yang sedari mula diproduksi dan masih dipertahankan hingga kini.

Dapur produksi Toko Djoen. (Nationalgeographic.grid/Sigit Pamungkas)

Kalau punya kesempatan menilik dapur produksi Toko Djoen, kamu bakal menjumpai pelbagai peralatan membuat roti yang telah berusia puluhan tahun, mulai dari Loyang besi hingga tungku besar. Namun, kini mereka nggak lagi memanaskan tungku dengan kayu bakar lantaran sulit didapatkannya.

Mumpung akhir pekan, berkunjung ke Toko Djoen, kuy! Gigit empuknya roti sembari bernostalgia dengan kisah-kisah manis masa kecil di sana! (IB20/E03)