Ubah Produksi Seragam jadi Masker, Taufik: Yang Penting Masyarakat Terbantu

Ubah Produksi Seragam jadi Masker, Taufik: Yang Penting Masyarakat Terbantu
Produksi masker juga dilakukan di kediamannya.  (Inibaru.id/ Rafida Azzundhani)

Bagi Taufik, menolong nggak mengenal kata rugi, termasuk ketika memutuskan mengubah konveksinya untuk memproduksi masker lantaran banyak petugas medis kekurangan APD. Baginya, menyoal harga tiada perlu, asalkan masyarakat terbantu.

Inibaru.id - Sebelum pandemi corona, produksi masker bukanlah yang utama di usaha konveksi Taufik. Namun, kini, penjahit di konveksi yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu hampir seluruhnya memproduksi masker. 

Bersama empat penjahitnya, Taufik saat ini bisa memproduksi ratusan lembar masker per hari. Satu penjahit biasanya membuat minimal 100 pcs. Padahal, sebelum Covid-19 mendera negeri ini, sehari-hari konveksinya menjahit seragam dan kaus. 

Namun, physical distancing benar-benar mengubah semuanya, termasuk usaha lelaki 43 tahun tersebut. Produksi seragam terhenti lantaran pemesan memutuskan menunda pesanannya. Ini membuat banyak konveksi kemudian beralih produksi: membuat masker kain!

Taufik pun setali tiga uang. Saat ini, permintaan masker memang meningkat; harganya juga merangkak naik. Namun, bukan untuk cari untung, suami dari Nonok itu mengaku memproduksi masker guna membantu petugas medis yang tengah mengalami kelangkaan APD.

Begitulah Taufik bercerita, saat saya temui pada Jumat (10/4/2020) di kediamannya yang menyatu dengan konveksi dan toko. Sore itu, dibantu sang istri, dia tengah menyortir masker pesanan yang sudah jadi.

Bertujuan Membantu

Keputusan membuat masker kain memang nggak terjadi begitu saja. Seorang teman, petugas medis pada sebuah rumah sakit di Kudus, kata Taufik, belum lama ini memintanya membuat masker, sebagai upaya terakhir lantaran sangat sedikit alat pelindung yang tersedia.

“Waktu itu pengadaan masker sulit didapatkan. Langka!" tuturnya, yang saat saya temui mengaku sedang memproduksi 12 ribu lembar masker pesanan. 

Pesanan pertama Taufik berasal dari instansi kesehatan, sebanyak 2.000 lembar. Setelah itu, ada pesanan dari sejumlah dokter pribadi. Ada pula yang untuk kepentingan bakti sosial.

Dari pemesan, selembar masker dihargai Rp 2.000. Taufik mengatakan, harga tersebut sebetulnya nggak cukup untuk ongkos produksi lantaran harus mengupah penjahit Rp 1.000 per masker.

"Ya, nggak cukup (ongkos produksinya). Bayar penjahit, belum lagi bahannya. Apalagi pas sudah berjalan, penjahit minta bayarannya dinaikkan," kata dia. 

Taufik bersama istrinya tengah mnyortir masker yang sudah jadi. (Inibaru.id/Rafida Azzundhani)
Taufik bersama istrinya tengah mnyortir masker yang sudah jadi. (Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Kendati demikian, Taufik mengaku nggak pernah memikirkan keuntungan yang didapatkan, karena dari awal niatnya memang membantu.

“Niat saya menolong. Masak menolong rugi? Kami coba bantu dengan apa yang kami bisa,” terangnya,  

Bukan Kain Sisa

Dalam pembuatan masker, Taufik mengaku nggak menggunakan kain sisa atau perca, melainkan lembaran kain yang dipotong sesuai pola. Beberapa pemesan, terangnya, bahkan punya standar bahan sendiri. 

"Pihak rumah sakit harus menggunakan kain katun osfot (oxford)," kata dia.

Gimana dengan ukurannya? Sebelum dijahit, kain harus berukuran 18x22 sentimeter, lalu menjadi 18x10 sentimeter setelah jadi.

"Lipatan masker ada 3, harus tepat di hidung, mulut, dan dagu. Dengan ukuran masing-masing 4 sentimeter," paparnya.

Taufik juga menerapkan lapisan dalam dan luar pada masker buatannya. Pada bagian samping masker, dia sengaja mambuat lubang agar bisa dimasuki tisu, agar masker lebih baik dalam menyaring udara. 

Hm, betul-betul kisah yang menarik! Kamu juga bisa, lo, membantu memutuskan mata rantai corona dengan melakukan hal-hal yang kamu bisa, sekecil apapun itu! (Rafida Azzundhani/E03)