Tetap Ramai, Apa Rahasia Barber Corner 'Cukur' Keraguan Pelanggan?

Tetap Ramai, Apa Rahasia Barber Corner 'Cukur' Keraguan Pelanggan?
Proses potong rambut dengan APD sederhana. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Banyak barbershop yang terpaksa tutup akibat pandemi. Lalu bagaimana cara pemilik Barber Corner tetap dapat pelanggan dan memupus ketakutan akan virus corona yang ada? Simak yuk!

Inibaru.id -  Saya amati bayak barbershop yang kini terpaksa tutup akibat pandemi. Wajar sih, bayangan ancaman virus corona menghantui masyarakat hingga enggan potong rambut. Nggak heran, opsi menutup barbershop adalah satu langkah paling konkret.

Dari berbagai berbagai barbershop yang tutup, Corner Barbershop adalah salah satu yang masih bertahan untuk melayani pelanggan. Hieronimus Agga Bomantoro sang pemilik barbershop yang kala itu saya temui di salah satu cabang yang terletak di Jalan Hasanudin nomor H 82 Semarang, mengaku dirinya menerapkan protokol kesehatan ekstra akibat pandemi.

“Sebenarnya tanpa pandemi pun setiap barbershop sudah punya SOP kesehatan. Tapi buat kita ada beberapa hal tambahan yang diterapkan akibat pandemi ini,” tutur lelaki yang masih berstatus mahasiswa ini.

Wajib pakai sarung tangan latex. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Wajib pakai sarung tangan latex. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Lelaki yang akrab disapa Agga ini mengaku bahwa pemakaian masker adalah hal dasar dan wajib untuk menjaga kesehatan barbermen. Dari awal dia menekankan pentingnya penggunaan masker pada para karyawan yang juga merupakan aset dari usahanya tersebut.

Selain menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer, dia juga mendorong pelanggannya selalu memakai masker.

“Karena customer kami dari kalangan menengah, kami nggak begitu khawatir karena mereka juga pasti paham dengan kebersihan diri sendiri,” tutur lelaki berkacamata ini.

Perlengkapan cukur. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Perlengkapan cukur. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Selain memperhatikan aspek kesehatan pada pelanggan, dirinya juga menerapkan protokol tambahan bagi barbermen. Sebelum melayani pelanggan, barbermen mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan lateks yang steril. Selain itu, penggunaan kaca mata bening juga wajib dipakai.

 “Kami juga sterilisasi alat, kursi selalu dibersihkan dengan sabun, keep kita cuci setiap hari,” tegasnya.

Proses sterilisasi alat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Proses sterilisasi alat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Agga yang kini sudah punya dua barbershop nggak memungkiri biaya operasional yang membengkak. Tapi dirinya nggan membebankannya pada pelanggan.

“Tarifnya masih tetap, Rp 25 ribu dah dapat (layanan) potong dan cuci,” tambahnya.

Kini, berkat komitmennya menerapkan protokol kesehatan dan menjamin keamanan di barbershopnya, Aga mengaku mengalami peningkatan pendapatan. Menurutnya, menawarkan servis dengan ekstra protokol kesehatan adalah bidang usaha baru yang bakal menemu segmennya sendiri.

“Ini merupakan segmen pendapatan baru yaitu pelanggan yang mengutamakan kebersihan,” tutup Agga.

Kamu sendiri masih ragu potong rambut, Millens? (Zulfa Anisah/E05)

Barber Corner

Alamat                  : Jalan Hasanuddin H 82 dan Jalan Suyudi nomor 23 B Semarang

Jam Operasional: Setiap hari pukul 09.00 – 20.00 WIB

Tarif                       : Rp 25.000