Telah Mengalami Berbagai Pagebluk, Pengusaha Ayam Pelung di Semarang Ini Sudah Biasa Merugi

Telah Mengalami Berbagai Pagebluk, Pengusaha Ayam Pelung di Semarang Ini Sudah Biasa Merugi
Ayam pelung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Corona turut mempengaruhi usaha ayam pelung milik Prasetyo dan Agustina. Mereka nggak dapat pemasukan tambahan. Selain corona, berbagai pagebluk lain juga telah mereka alami. Apa saja?

Inibaru.id - Pandemi corona kini mengobrak abrik berbagai sektor, termasuk sektor nonformal. Salah satu yang terdampak adalah pembudidaya ayam pelung yang terletak di Kalipancur ini.

Selasa (17/1), saya bertemu dengan Agustina, istri Paulus Heru Prasetyo, pemilik budidaya ayam pelung. Tanpa ragu, saya diajak Agustina ke kandang berukuran sedang yang terletak di belakang rumah.

“Tinggal sedikit,” kata Agustina.

Sambil berbincang, Agustina berkali-kali mengucapkan kata “pagebluk”, sebuah istilah yang juga berarti wabah. Ya, Agustina bersama suaminya telah berkali-kali melewati wabah yang menyebabkan ayam ternaknya mati.

Peternakan ayam pelung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Peternakan ayam pelung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dia mengaku beberapa tahun yang lalu saat gunung Merapi meletus, seluruh telur ayam pelung miliknya yang berada di Magelang nggak bisa menetas.

“Telur yang ada di sana (Magelang) nggak pada menetas, habis!” tutur Agustina.

Meskipun Agustina cuma membantu suaminya dalam membudidayakan ayam pelung, dia sedikit banyak tahu dengan apa yang terjadi dengan usaha suaminya tersebut.

Nggak cuma itu, dia dan suaminya kembali mengalami cobaan. Disebutkan sebanyak 44 ekor ayamnya mati karena wabah yang dibawa oleh 1 ayam yang baru dibelinya. Wabah tersebut cuma menyisakan 2 ekor ayam yang masih dipelihara hingga kini. Seiring waktu berlalu dan budidayanya kembali pulih.

Yang paling baru adalah corona. Meskipun nggak mempengaruhi kesehatan ayam, corona bikin aktivitas transaksi tersendat. Wabah corona bikin penjualan ayam dengan kokok yang panjang ini terpaksa gagal. Agustina mengaku suaminya terpaksa membatalkan beberapa pesanan ayam pelung dari pembelinya karena wabah ini.

“Ya gimana lagi, pagebluk gini,” lagi-lagi Agustina menyebutkan kata tersebut.

Seekor ayam pelung di tempatnya paling mahal bisa terjual hingga Rp 2 juta. Tentu sangat banyak kerugian jika harus menghadapi beberapa pagebluk seperti ini.

Ya, nampaknya Agustina dan suaminya telah melalui berbagai asam garam membudidayakan ayam pelung. Nggak cuma mempengaruhi bisnisnya, pandemi corona juga menjadi penghalang buat saya untuk bertemu Prasetyo.

Dalam kesibukannya bekerja dari rumah sekaligus membudidayakan ayam pelung, dia belum mau saya temui. Menurutnya, dia juga was-was dengan pandemi yang kini tengah terjadi, khususnya di Kota Semarang. Untuk itu saya diminta untuk bertemu dengannya jika wabah sudah mereda.

“Ntar aja kalau situasi sudah membaik,” kata lelaki yang akrab disapa Yoyok ini lewat pesan singkat Whatsapp.

Semoga wabah ini segera berakhir dan semua orang bisa beraktivitas seperti semula ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)