Robita, Tas Incaran Sosialita Jepang dari Indonesia

Berkualitas tinggi, tas Robita jadi incaran sosialita Jepang. Tas keren itu handmade seorang mantan tukang kebun.

Robita, Tas Incaran Sosialita Jepang dari Indonesia
Sunny Kamengmau dan tas-tas produksinya (finansialku.com)

Inibaru.id - Siapa saja bisa meraih sukses asal mau berusaha dan pantang menyerah. Itulah yang dilakukan Sunny Kamengmau.

Lelaki asal Nusa Tenggara Timur itu sukses sebagai pemasok tas kulit merek Robita yang diakui eksklusif banget di Jepang. Tas itu jadi incaran para sosialita di Jepang.  Bahkan, tas mewah itu pernah muncul pada halaman utama Yahoo Jepang selama 24 jam secara cuma – cuma.

Menukil laman finansialku.com, memiliki latar belakang hanya lulusan SMP, kesuksesan Sunny nggak dia dapatkan dengan instan. Semuanya berawal ketika pada usia 18 tahun, dia merantau ke Bali. Berbekal ijazah SMP, Sunny bekerja sebagai buruh cuci mobil dan buruh renovasi rumah sebelum di Un's Hotel di Legian, Kuta. Bekerja sebagai tukang kebun pada 1994, setahun kemudian Sunny menjadi satpam hotel yang dia jalani selama empat tahun.

Akhirnya peluang baik itu datang. Tapi kedatangannya nggak seperti durian runtuh lo, Millens.

Sunny belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang secara autodidak. Tujuannya jelas: bisa berkomunikasi dengan para tamu hotel dari berbagai negara. Pada 1995, kemampuan berbahasa Jepang yang dia miliki membuatnya akrab dengan Nobuyuki Kakizaki yang memiliki perusahaan Real Point Inc.

Ketika berteman dengan Nobuyuki, pria kelahiran 12 September 1975 itu sering diajak berbelanja kerajinan tangan dan aksesori di toko. Dari temannya itu, dia pun belajar bagaimana cara memilih barang berkualitas hingga cara mengirimnya ke Jepang. Akhirnya setelah lima tahun berteman, pengusaha asal Jepang itu menawari Sunny untuk memasok tas kulit buatan tangan ke Jepang. Meski nggak punya pengalaman berbisnis, Sunny menerima tawaran itu dan memutuskan berhenti bekerja sebagai satpam pada 2000.

Pada tahun-tahun awal, produk yang dibuatnya gagal dan bahkan nggak ada pesanan. Dengan berbagai upaya, Sunny yang saat itu hanya memiliki seorang pengrajin tas akhirnya bisa membuat tas yang memuaskan Nobuyuki.

Baca juga:
Cilok Kekinian Kaya Saus
Kesuksesan Riezka, Kesuksesan Es Pisang Ijo

Pesanan lalu sedikit demi sedikit datang. Pada 2003, Sunny mempunyai 20 karyawan dengan produksi produksi antara 100-200 tas per bulan. Di tahun itu pula, Sunny dan Nobuyaki membentuk CV Realisu dengan brand tas Robita.

Kenapa Robita? Karena partner bisnisnya, Nobuyuki, menyukai karakter tokoh Nobita di film kartun Doraemon.

Sangat diminati pasar Jepang, bentuk anyaman tas Robita natural, warnanya bagi orang Jepang juga terbilang antik. Selain itu prosesnya yang handmade semua sangat disukai orang Jepang dan membuatnya dihargai sangat mahal. 

Setiap kali pergi ke Jepang, Sunny mencari tahu kebutuhan dan minat pasar Jepang. Jadi, saat kembali ke Tanah Air, dia segera membuat produk tas yang sesuai dengan kebutuhan pasar di Jepang.

Dalam proses pembuatannya, Sunny menerapkan kebijakan yang cukup ketat. Mulai dari produksi, kualitas, hingga bahan baku harus bagus karena standar kualitas yang ketat di Jepang. Produk tas yang dibuatnya harus sedemikian sempurna mulai dari jahitan, jenis kulit yang digunakan hingga tempelan manik-manik aksesori tas. Hal ini dilakukan Sunny agar masyarakat Jepang puas dengan kualitas yang ditawarkan tas Robita.

Adapun harga jual tas Robita di Jepang rata-rata dibanderol Rp 4-5 juta untuk ukuran besar dan Rp 2-3 juta untuk ukuran kecil. Memiliki dua model tas yang dipasarkan, yaitu tas Robita dan tas Robita warna, rata-rata penjualan tas milik Sunny ini berkisar Rp 25-30 miliar dalam setahun.

Meski pernah mengalami puncak kesuksesan, Tas Robita juga pernah mengalami penurunan. Masalah sumber daya manusia pernah membuat produksi tas Robita mengalami penurunan hingga 3.500 tas setiap bulannya. Dia pun juga harus kehilangan rekan bisnisnya yang tutup usia karena penyakit kanker paru-paru. Akhirnya sepeninggal Nobuyuki Kakizaki, Sunny bekerjasama dengan istri Nobuyuki yang mengambil alih perusahaan di Jepang.

Baca juga:
Keripik Lebay ala Rini Lebay
Menengok Kampung Keramik Balong di Blora

Permasalahan lain pun kembali muncul. Sunny dihadapkan dengan persaingan produk tas dari Tiongkok. Namun meskipun lebih mahal,  penjualan tas Robita lebih unggul dikarenakan konsumen di Jepang lebih menyukai produk handmade daripada produk yang berbasis pabrik.

Untuk mengembangkan usahanya, Sunny juga memperluas pasar dengan bekerja sama dengan berbagai stakeholder agar bisa mendistribusikan ke ritel dan outlet di Jepang. Selain itu, dia juga telah membangun empat pabrik pembuatan tas. Sebanyak tiga pabrik didirikan di Bali dan satu pabrik berdiri di Yogyakarta, salah satu daerah penghasil kulit sapi dan kambing, bahan utama tas-tas Robita. (ALE/SA