Tambal Sulam Kain Perca, si Penyambung Rezeki

Tambal Sulam Kain Perca, si Penyambung Rezeki
Manfaatkan kain sisa potong untuk masker. Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Di tengah kelangkaan masker medis, terdapat masker alternatif yang terbuat dari bahan kain. Beberapa sentra konveksi banyak yang beralih memproduksi masker kain karena permintaan yang cukup besar. Berikut salah satu konveksi yang menambahkan masker sebagai hasil produksinya.

Inibaru.id - Novia, pengusaha konveksi sekaligus pemilik online shop Keinara.idn berinisiatif membuat masker dari kain perca. Pembuatan masker memanfaatkan kain katun sisa bahan produksi gamis di konveksi miliknya.  

Ketika saya hubungi melalui WhatsApp pada (9/4), Novia bercerita tentang dampak corona terhadap konveksi miliknya. Penurunan omzet karena sedikit permintaan konsumen turut dirasakannya. Akan tetapi, dia masih memproduksi gamis seperti biasanya. Ditambah dengan memproduksi masker, karena permintaan pasar terhadap masker meningkat drastis pada saat ini.

“Untuk produknya sih masih sama, tetap produksi gamis. Cuma kemarin permintaan pasar akan masker banyak, jadi ada tambahan untuk produksi masker,” ujar Novia.

Novia termotivasi untuk produksi masker kain ketika melihat tumpukan kain sisa potong yang kiranya masih bisa dimanfaatkan. Daripada sisa kain tersebut dia jual dengan harga yang nggak layak, perempuan ini lebih memilih mengubah tumpukan kain sisa potong tersebut menjadi masker yang sangat berguna. Nggak dimungkiri, produksi masker menambah omzetnya.

“Jadi kasarannya, mungkin kalau ngejual kain sisa cuma diharga Rp 200-300 ribu. Tetapi, ketika udah jadi masker bisa dapet Rp 2 jutaan, bahkan bisa lebih,” ujarnya.

Produk masker milik Novia yang siap untuk dijual. Inibaru.id/Rafida Azzundhani)
Produk masker milik Novia yang siap untuk dijual. Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Awal pertama, ketika virus corona masuk ke Indonesia, penjualan masker miliknya bisa sampai 200-300 pcs setiap harinya. Namun, saat ini, sudah banyak sekali konveksi atau penjahit perorangan yang memproduksi masker, termasuk di Kota Kudus.

Apalagi beberapa produsen menjual maskernya dengan harga yang nggak wajar. Dari situ, Novi mengungkapkan jika penjualan masker nggak sebanyak dulu. Novia sukses dibuat terheran-heran dengan para produsen masker yang mampu menjual dengan harga yang sangat murah. Nggak terpikir olehnya, berapa biaya jasa penjahit jika mampu menjual masker dengan harga semurah itu. 

“Cuma ya kembali lagi, kita produksi awal aslinya bukan masker kok, jadi jualan masker hanya buat sampingan aja daripada kain kejual dengan harga rendah. Di samping itu juga ngasih kerjaan ke karyawan sih,” ungkap Novia.

Pengusaha muda ini memasang harga Rp 8 ribu untuk sebuah masker. Nggak lupa, dia memberikan potongan harga lo, untuk pembeli yang mengambil 5 lusin masker. Harganya menjadi Rp 5 ribu per masker.

Sampai saat ini ada sekitar 20 penjahit yang bekerja di konveksi miliknya.

Gimana Millens, terinspirasi untuk membuat msker dengan kain perca? (Rafida Azzundhani/E05)