Tahun Baru di Tengah Pandemi, Pedagang Terompet Pun Terpaksa Alih Profesi

Tahun Baru di Tengah Pandemi, Pedagang Terompet Pun Terpaksa Alih Profesi
Nggak jualan terompet, Narto beralih jadi penjual balon untuk menyambung hidup. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tahun ini dipastikan nggak ada nyaring bunyi terompet. Selain karena berbagai acara tahun baru ditiadakan, terompet juga dibatasi penjualannya karena dinilai bisa menjadi media penyebaran  corona. Lalu bagaimana nasib para pengrajin terompet? 

Inibaru.id - Tahun baru kali ini tampaknya akan senyap. Dikarenakan pandemi Covid-19 yang belum juga selesai, segala kegiatan meriah tahun baru ditiadakan. Bahkan, tempat-tempat wisata juga akan serba dibatasi.

Ketiadaan gegap gempita ini rupanya juga memengaruhi mereka yang biasa mengais rezeki di tengah momen Natal dan Tahun Baru (Nataru). Salah satunya adalah penjual terompet.

Di Surabaya, Tri Rismaharini yang sebelumnya menjabat walikota bahkan sudah membuat maklumat, pedagang terompet dilarang berjualan saat momen Nataru. Takutnya virus corona akan menular lewat terompet yang dijual lantaran sebelumnya telah dicoba pembuat, penjual dan pembeli.

Lalu bagaimana nasib pedagang terompet di Kota Semarang?

Tampaknya, nggak jauh beda. Sejauh ini memang belum ada imbauan khusus mengenai pelarangan penjualan terompet. Namun, pembatasan kerumunan di tahun baru dan kondisi pandemi sudah membuat pedagang terompet pesimis tos duluan.

“Kami sudah diperingatkan, malam tahun baru nggak boleh jualan,” ujar Narto, Selasa (29/12/2020).

Narto nggak hanya berjualan, tapi juga memproduksi. Nggak kurang dari 10 tahun dia menggeluti dunia terompet.

Sebelum pandemi melanda, Narto memproduksi terompet di Jalan Ahmad Yani, Kota Semarang. Terompet buatannya akan diedarkan atau dijual oleh beberapa pedagang di Jalan Ahmad Yani juga.

“Biasanya beberapa hari sebelum Natal saya yang memulai jualan di sini (Jalan Ahmad Yani),” kata Narto.

Di tempat dia biasa berdagang terompet di Jalan Ahmad Yani. (Inibaru.id/ Audrian F)
Di tempat dia biasa berdagang terompet di Jalan Ahmad Yani. (Inibaru.id/ Audrian F)

Karena sudah lama menjadi pedagang terompet, momen Tahun Baru biasanya menjadi lumbung rezeki bagi Narto. Pasalnya, selain dari pedagang eceran, dia juga mendapat pesanan dari hotel-hotel atau cafe untuk merayakan momen Tahun Baru. 

Kini, Narto terpaksa gigit jari karena terompet nggak bisa diproduksi. Dia pun terpaksa menambal melompongnya pendapatan dengan berjualan balon saban akhir pekan.

“Daripada kenapa-kenapa mending libur dulu saja jualan terompetnya,” ucapnya, yang terbilang beruntung karena mempunyai pekerjaan lain, yakni sebagai pembantu umum di sebuah klinik anak.

Narto barangkali mewakili keluhan pedagang terompet  lain di Semarang, dan mungkin di seluruh dunia, karena pandemi membuat lahan penghidupannya harus ditutup sementara.

Mungkin, inilah saatnya mengakhiri tahun bukan dengan gebyar dan gelegar kembang api atau lengkingan terompet, tapi dengan kontempelasi serta lantunan harapan dan wawas diri. 

Selamat Tahun Baru, ya, Millens! Semoga tahun depan lebih baik dan orang-orang seperti Narto dan kawan-kawannya kembali bisa berkreasi dengan terompet! (Audrian F/E03)