Siapa yang Masih Beli VCD/DVD?

Kehadiran platform-platform penyedia musik daring memang memanjakan. Namun di sisi lain, kehadiran mereka juga menjadi "genderang kematian" bagi penjual lagu dalam bentuk fisik seperti VCD/DVD.

Siapa yang Masih Beli VCD/DVD?
Safa, pegawai toko Dist Sampangan yang menjual kaset VCD/DVD. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Inibaru.id – Saat melintas di sekitar Taman Sampangan, ada satu toko yang menarik perhatian saya. Bukan toko boneka atau smartphone, tapi toko VCD/DVD bernama Dist Sampangan. Di saat semua orang dapat mengunduh lagu atau film dengan mudah dan memutarnya dari layar ponsel pintar, saya penasan bagaimana toko itu bertahan.

Saya berbelok ke toko dan masuk. Dari Safa, pegawai toko saya tahu bahwa toko ini telah tujuh tahun berdiri. Dia mengaku telah bekerja di sana. Rentang harga tiap DVD/VCD dihargai mulai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Pembelinya pun berasal dari bermacam kalangan.

VCD dangdut paling laris di Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Meski semakin sepi, tetap ada saja satu atau dua orang yang mencari VCD/DVD ke tokonya per hari.

“Kalau Semarang sukanya lagu, terutama yang paling laris kaset-kaset dangdut. Kalau film lebih ke film bioskop luar. Muda, tua, anak kecil, banyak yang cari,” kata Safa.

Judul-judul kaset juga selalu diperbaharui menurut pasar lo, Millens. Baik lagu dari aneka label musik atau film keluaran bioskop terbaru. Film luar negeri menjadi film paling cepat di-update karena produksinya yang banyak dan cepat. Dalam seminggu bisa tiga kali keluar.

Kaset-kaset tersebut biasanya dikulak dari sales tertentu di berbagai kota, seperti Semarang dan Jakarta. Kaset dipesan sesuai permintaan dan datang dalam kiriman satu hingga beberapa kardus.

Barangkali itulah yang membuat toko ini tetap bernapas. Lagu dan film terbaru selalu di-update.

Seorang ibu tengah mencari VCD lagu lawas. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di tengah ramainya aplikasi daring yang menyediakan berbagai lagu dan film dengan mudah. Safa berujar hal tersebut sangat berpengaruh terhadap penjualan.

“Berpengaruh banget, tahu sendiri toh sekarang online, sudah Youtube. Sekarang berkurang yang beli nggak kayak dulu, nggak seramai dulu,”ujarnya. “Dulu sampai satu juta sehari, sekarang berkurang 700 ribu,” tambahnya.

Hal tersebut jugalah yang membuat toko-toko kaset di Sampangan semakin sedikit, Millens. Kata Shafa, dari empat toko serupa, tokonyalah satu-satunya yang bisa bertahan di wilayah ini.

Saya kira tersisihnya toko semacam ini nggak hanya terjadi di Semarang. Di kampung halaman saya pun sama. Pada 2011 setiap kali melewati pasar tradisional, toko-toko yang menjual atau menyewakan VCD/DVD menjamur. Persaingan dagang sangat ketat.

Mereka bahkan nggak segan memutar dengan tingkat volume yang luar biasa tinggi untuk menunjukkan kualitas barang yang dijualnya. Sekarang, gelora itu menghilang. (Isma Swastiningrum/E05)