Sejenak Mengusik Eksistensi Kompilasi Musik

Sejenak Mengusik Eksistensi Kompilasi Musik
Dua rekaman fisik kompilasi musik asal Bandung dan Semarang. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kompilasi musik dirasa sudah nggak menguntungkan untuk diproduksi sekarang ini. Lalu, mengapa masih saja ada yang merilis kompilasi musik?

Inibaru.id – Seiring dengan perkembangan teknologi, publikasi dan distribusi rekaman juga ikut berkembang. Sekarang kamu lebih mudah mengakses musik melalui platform digital streaming, kan, Millens? Hal itu juga menyebabkan perubahan penjualan produk rekaman fisik, termasuk kompilasi.

Jika dulu kompilasi berguna sebagai penanda eksistensi skena, sekarang sudah agak bergeser. Dalam ranah industri, kompilasi juga sudah nggak lagi menjadi komoditi yang sepenuhnya menguntungkan untuk terus diproduksi. Musikus sekarang lebih mudah untuk mempublikasikan musiknya secara mandiri melalui platform digital. Itulah yang saya maksud dengan peran kompilasi menjadi agak bergeser.

Menurut Idhar Resmadi, jurnalis dan pengamat musik, membuat kompilasi bukan lagi sebatas menguatkan eksistensi skena, tetapi juga untuk mendokumentasikannya. Kompilasi seperti Masa Indah Sekali Banget Pisan (1997) dan Independent Rebel (1998) menjadi dokumentasi kelompok musik metal Ujung Beruang, juga kompilasi JKT:SKRG (2004) menjadi dokumentasi skena musik di BB’S Cafe di Jakarta.

Kompilasi <i>Bandung Essentials</i> yang mendokumentasikan musikus baru Bandung dijual sepaket dengan zine. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Kompilasi Bandung Essentials yang mendokumentasikan musikus baru Bandung dijual sepaket dengan zine. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

“Tujuannya lebih ke pendokumentasian skena, mulai dari genre, trend, dan band di sebuah skena,” ucap dosen Universitas Telkom itu melalui pesan rekaman suara, Jumat (27/3).

Karena nggak lagi menguntungkan secara industri, banyak label rekaman yang sekarang menyetop produksi kompilasi. Pada Maret 2020 ini, baru satu kompilasi yang dirilis dan terdeteksi radar saya, yaitu kompilasi musik-musik thrash metal dari Bandung, Primal Decay rilisan Grimloc Records.

Meskipun begitu, bukan berarti kompilasi sudah tamat. Selain melalui playlist yang dibuat perseorangan di platform digital, kompilasi fisik masih diproduksi. Hal itu dilakukan oleh label rekaman asal Semarang, Stoned Zombies, yang merilis kompilasi musik From the Muddy Banks of Kali-Grunge.

Kompilasi ini mengumpulkan musikus grunge Semarang lintas generasi dan merilisnya dalam bentuk kaset pita. Hasil penjualan kaset pita tersebut nantinya akan dijadikan modal untuk menyelenggarakan gig yang menampilkan para pengisi kompilasi ini.

Kompilasi <i>From the Muddy Banks of Kali-Grunge</i> dijual untuk mendanai kegiatan skena. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Kompilasi From the Muddy Banks of Kali-Grunge dijual untuk mendanai kegiatan skena. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

“Keuntungan dari penjualan niatnya kita bikinin gigs. Kalau masih sisa (niatnya) buat ngelanjutin kompilasi selanjutnya,” ucap Aga, salah seorang pengelola Stoned Zombies, melalui pesan singkat (22/3).

Kompilasi akhirnya menjadi komoditi yang mendukung komunitas atau skena, bukan menjadikan komunitas sebagai komoditi. Kaset pita kompilasi ini hanya dijual di Come Store, Jalan Pamularsih Barat VIII nomor 4. 

“Begitu yang ngomongin banyak, tapi stok terbatas. Biar panic buying,” kelakar Aga.

Kamu tertarik bikin kompilasi nggak, Millens? (Gregorius Manurung/E05)