Sejarah Panjang Batik Pekalongan

Kota Pekalongan punya julukan sebagai "Kota Batik". Batik yang dihasilkan pun terkenal bagus-bagus lo. Mau tahu sejarahnya?

Sejarah Panjang Batik Pekalongan
Mencanting batik pelakongan (karyacahpekalongan.blogspot.com)

Inibaru.id – “Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.”

Petikan lagu Slank itu terasa familier di kuping kita ya, Millens. Yap, Pekalongan terkenal sebagai produsen batik di Jawa Tengah. Bahkan pada 2014 kota ini masuk ke jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori Crafts and Folk Art serta mempunyai city branding yaitu World’s City of Batik.

Melansir laman cintapekalongan.com, penyebaran batik di Pekalongan sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Islam, sekitar abad 17. Para wali menyebarkan ajaran Islam melalui media batik. Selain itu banyak juga pedagang muslim yang datang ke Pekalongan untuk berdagang batik. Dalam dokumen milik VOC disebutkan bahwa pada 1740 pernah terjadi pengiriman kain batik dari Pekalongan ke Batavia (Jakarta) dengan omzet sebesar 20 ribu real Spanyol (mata uang VOC waktu itu) per tahun.

Nah, proses pembuatan batik di Pekalongan diperkirakan ada sejak 1830 atau pasca-Perang Jawa. Waktu itu sisa-sisa pasukan Laskar Diponegoro menetap dan mengembangkan usaha batik di Pekalongan. Jadi deh banyak muncul permukiman baru yang warganya memproduksi batik. Di wilayah selatan ada Kecamatan Kedungwuni, wilayah barat ada Wiradesa dan Kecamatan Tirto, dan di wilayah timur sentra produksi batik ada di Nglumprit dan Setono seperti ditulis cintapekalongan.com.

Beberapa tokoh yang terkenal sebagai pembuat batik di Pekalongan adalah Lein Metzelaar, Eliza Charlota van Zuylen, dan Christina van Zuylen yang merupakan keturunan Belanda. Ada juga Oey Soe Chun, Oey Soen King, dan Liem Ping Wie dari kalangan Tionghoa.

Eits, ada juga tokoh asli Indonesia yang ikut mengembangkan batik yaitu Nyai Singobarong, saudagar batik asli Pekalongan.

Yang menarik seperti dikutip dari GNFI (27/9/17), batik Pekalongan punya motif yang beragam dan lebih naturalis. Variasi warnanya pun lebih berani. Dalam sehelai kain batik Pekalongan kita bisa menemukan perpaduan delapan warna dengan kombinasi yang dinamis lo.

Oya Millens, ragam motif dan tata warna batik Pekalongan dipengaruhi juga oleh perpaduan budaya dari bangsa lain seperti Tiongkok, Belanda, Jepang, dan Arab. Motif yang terpengaruh oleh budaya Jepang yaitu motif java hokokai atau motif jawa baru. Ada juga motif jlamprang yang terpengaruh oleh budaya Arab dan jadi yang paling khas dari Pekalongan sampai sekarang lo. Beberapa motif lain seperti batik encim, juga nggak kalah menarik lo.

Nah, kalau kamu suka motif yang mana nih, Millens? (IB10/E02)