Sardinah si Pembuat Besek dari Jepara: Nggak Menyangka Pesanan dan Harga Bakal Meningkat

Terbuat dari anyaman bambu yang eco-friendly, besek menjadi wadah alternatif yang tengah naik daun selama Iduladha ini. Seberapa banyak peningkatannya? Simak kisah Sardinah, pembuat besek asal Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara!

Sardinah si Pembuat Besek dari Jepara: Nggak Menyangka Pesanan dan Harga Bakal Meningkat
Seorang pengrajin di Desa Kendengsidialit sedang menyelesaikan anyaman besek. (Inibaru.id/ Pranoto)

Inibaru.id - Bagi yang belum pernah menggunakannya, besek adalah sebuah wadah berbentuk kotak yang terdiri atas dua bagian, yakni wadah dan tutup dan terbuat dari anyaman bambu. Fungsinya, bermacam-macam, mulai dari penyimpan makanan sampai wadah hantaran.

Belakangan, besek mendadak terkenal lantaran wadah ini dianggap sebagai pengganti yang pas untuk daging kurban yang bakal dibagi-bagikan dalam perayaan Iduladha, hari raya terbesar kedua umat Islam setelah Idulfitri.

Besek yang eco-friendly pun banyak diburu panitia kurban sejak menjelang Iduladha. Rupanya, ini juga berpengaruh pada nilai ekonominya yang melambung tinggi, hal yang nggak pernah disangka Sardinah, seorang pengrajin besek di Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Nenek 70 tahun itu mengaku heran, harga kerajinan beseknya dihargai agak tinggi jelang Hari Raya Kurban. Padahal, sejak puluhan tahun menggeluti pekerjaan itu, maksimal besek bikinannya hanya dihargai Rp 10 ribu se-jinah (10 buah).

"Sakniki telulas ewu, biasane rak mung sepuluh ewu entuk sejinah,” tutur Sardinah kepada Inibaru.id dalam bahasa Jawa belum lama ini, yang artinya kurang lebih: Sekarang harganya Rp 13 ribu, biasanya cuma Ep 10 ribu per 10 buah.

Dari bilah bambu, jadilah besek. (Inibaru.id/ Pranoto)

Selama ini dia hanya membuat dan menitipkan besek untuk dijual ke pasar. Maka, wajar jika nenek murah senyum itu baru tahu tren penggunaan besek saat Iduladha tersebut.

Pesanan Meningkat

Selain harga, jumlah pesanan besek pun meningkat. Namun, lantaran keterbatasan tenaga, Sardinah mengaku nggak sanggup memenuhi semua pesanan. Ini karena proses pembuatan besek tidaklah mudah. Terlebih, umurnya juga sudah terlampau tua.

Sardinah mengatakan, menggeluti usaha membuat besek telah dilakukannya sejak usia 15 tahun. Bahkan, hingga sang suami tutup usia, dia masih setia dengan pekerjaan tersebut.

Untuk membuat besek, semula Sardinah membeli bambu apus. Bambu itu kemudian dibelah tipis, lalu dijemur di terik matahari hingga mengering. Setelahnya, bilah bambu dianyam membentuk kotak.

Sebatang bambu bisa dibuat menjadi 40 pasang besek (tutup dan wadah). Dengan tenaganya yang sekarang, Sardinah mengaku hanya bisa menggarap maksimal dua batang bambu apus.

"Mlenet-mlenet dadi kotak ya rada angel, karan wis tua (Melipat-lipat supaya jadi kotak sempurna ya susah, karena tenaganya sudah tua)," ujarnya sembari tetap sibuk dengan pekerjaannya.

Pengrajin Menyusut

Kepala Desa Kendeng Sidialit Kahono mengungkapkan, saat ini jumlah pengrajin besek di wilayahnya telah banyak berkurang.

"Tinggal nenek-nenek yang menekuni kerajinan tersebut. Warga lain, sudah beralih profesi jadi pembuat tusuk satai atau tali dari bambu," kata dia.

Seperti kebanyakan warga di Desa Kendeng Sidialit, Sardinah juga nggak lagi punya penerus karena anaknya kini lebih memilih membuat tusuk satai, karena pembuatannya lebih mudah, dan untungnya lumayan besar.

Hm, kesadaran masyarakat untuk beralih dari bungkus plastik menjadi besek mungkin bakal menjadi angin segar untuk bisnis besek pada tahun-tahun mendatang. Semoga Nenek Sardinah bakal punya banyak penerus, biar penggunaan kantong plastik bisa terus ditekan! (Pranoto/E03)