Sangqu, Sepeda Tenaga Matahari Buatan Indonesia

Sangqu, Sepeda Tenaga Matahari Buatan Indonesia
Sepeda Matahari Sangqu. (Radioidola/Dok Kasmin Riyadi)

Inovasi anak negeri dari Semarang ini sangat menarik, Millens. Jadi, ada Sepeda Matahari Sangqu yang memakai energi tenaga surya. Bebas BBM, deh.

Inibaru.id – Kendaraan tenaga surya memang belum populer di berbagai belahan dunia manapun. Namun, bukan berarti perkembangannya berhenti di level itu-itu saja. Semakin banyak inovasi dibuat agar di masa depan, manusia bisa berkendara tanpa perlu bergantung dengan bahan bakar yang bakal habis, yakni minyak.

Omong-omong, di Indonesia, ada Sepeda Matahari Sangqu yang memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energinya, Millens.

Sepeda ini diproduksi oleh Sentra IKM Logam Semarang. Sebenarnya sih, alih-alih disebut sebagai sepeda biasa, Sangqu ini lebih cocok dianggap sebagai sepeda motor. Meski, tentu saja energinya bukan berasal dari bahan bakar minyak (BBM), melainkan tenaga surya yang dikonversi menjadi listrik.

Bentuk sepeda ini cukup menarik karena adanya panel surya yang berbentuk seperti atap kecil. Jadi, selain nggak bikin pengendaranya kepanasan, keberadaan panel ini menyerap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik yang bisa menggerakkan sepeda motor.

Yang membuat Sepeda Matahari Sangqu ini adalah Kasmin Riyadi. Ide ini muncul gara-gara keprihatinannya melihat ketergantungan manusia terhadap BBM yang sebenarnya sudah semakin menipis jumlahnya. Nah, dia memulai riset untuk sepeda ini sejak 2021 lalu.

Nggak lama, tepatnya pada pertengahan 2021, riset yang dilakukan laki-laki lulusan Politeknik Negeri Semarang (Polines) ini sudah jadi nominasi Startup Inovasi Masyarakat yang diselenggarakan Badan Riset Indonesia.

Sepeda matahari Sangqu menggunakan tenaga matahari dan listrik. (Radioidola/Dok Kasmin Riyadi)
Sepeda matahari Sangqu menggunakan tenaga matahari dan listrik. (Radioidola/Dok Kasmin Riyadi)

Laki-laki berusia 42 tahun ini mengklaim sepeda buatannya nggak sekadar bebas BBM, melainkan juga anti-polusi. Inovasinya juga hemat penggunaan energi. Jadi ya, kalau di malam hari dan nggak ada matahari sebagai sumber energi, sepeda masih bisa jalan sejauh 48 km. Selain itu, kalau baterainya habis, juga bisa mengisi ulang daya di aliran listrik di manapun, lo.

Lantas, berapa sih harga sepeda ini? Nggak mahal-mahal banget ternyata.

“Dijual Rp 12,5 juta,” ujar Kasmin.

Oya, soal kemampuan untuk dikendarai, sepeda ini bisa melaju dengan kecepatan maksimal 25 km/jam. Itu berlaku kalau beban maksimalnya 130 kg. Soal kelengkapan, sudah ada lampu depan dan belakang, klakson, lampu sein, serta indikator yang menunjukkan daya baterai.

Meski begitu, ada kemungkinan desainnya bakal diperbaiki. Maklum, adanya panel surya besar yang mirip atap ini membuatnya bisa oleng jika diterpa angin cukup besar. Selain itu, Kasmin juga masih menunggu legalitas dari pemerintah atau dinas terkait.

Yang terakhir, soal namanya yang nggak biasa. Ternyata, Sangqu ini berasal dari kata ‘sangku’ yang artinya adalah tempat nasi. Alasannya, karena filosofi dari sangku sendiri bisa dianggap sebagai tempat rezeki. Selain itu, Sangku ternyata dulu adalah nama kecil dari ayah Kasmin yang sudah tiada.

Tertarik memiliki Sepeda Matahari Sangqu, Millens? (Rad/IB09/E05)