Sanggar Walesan, Toko Alat Pancing dan Custom Joran Semarang yang Tak Pernah Sepi Pelanggan

Sanggar Walesan, Toko Alat Pancing dan Custom Joran Semarang yang Tak Pernah Sepi Pelanggan
Yongki dan walesan yang menanti untuk diperbaiki. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sanggar Walesan menjadi salah satu toko alat pancing yang cukup terkenal di Kota Lunpia. Tempat yang nggak pernah sepi pelanggan itu juga dikenal luas sebagai tempat custom joran Semarang.

Inibaru.id - Sanggar Walesan menjadi satu dari sedikit toko alat pancing yang masih bertahan di Kampung Layur Semarang. Padahal, di kampung yang ada di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, itu konon pernah menjadi rujukan para pemancing se-Semarang.

Toko alat pancing yang dirikan Suyono pada 2000 itu terbilang masih "baru", mengingat wilayah tersebut, tepatnya di Pasar Ngilir, diyakini memang telah sentra penyedia alat pancing sejak lama sekali.

Berdasarkan catatan dosen arsitektur Unika Soegijapranata Semarang Krisprantono, Pasar Ngilir adalah pasar pertama di Semarang. Pasar ini didirikan di Kampung Melayu, daerah yang kini dikenal sebagai Jalan Layur, nggak jauh dari ujung Kali Semarang, pada abad ke-16.

Sejak lama, pasar tersebut memang dikenal sebagai sentra penjualan pelbagai alat pancing. Di Kota Semarang, khususnya di sepanjang pesisir, kegiatan memancing memang menjadi hari-hari warga setempat. Mereka biasanya sudah mencari posisi terbaiknya di tepi sungai atau pantai menjelang sore.

Namun, minat memancing yang masih tinggi agaknya nggak berbanding lurus dengan perkembangan toko alat-alat pancing di Kota Semarang. Banyak toko tumbang dan tutup, entah apa penyebabnya. Yang pasti, dari sekian banyak, kini hanya tersisa beberapa saja, salah satunya Sanggar Walesan.

Tepat di Samping Masjid Layur

Lokasi Sanggar Walesan yang berada di sebelah Masjid Layur. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Lokasi Sanggar Walesan yang berada di sebelah Masjid Layur. (Inibaru.id/ Audrian F)

Suyono mendirikan Sanggar Walesan dua dekade lalu, didirikan di sebuah bangunan tua yang berlokasi tepat di samping Masjid Layur. Dari luar, bangunan toko ini terlihat tinggal setengah saja. Pintunya tinggal separuh, sedangkan atap luarnya begitu dekat dengan bibir jalan.

Di Semarang, Jalan Layur menjadi salah satu tempat yang hampir tiap tahun ditinggikan karena hampir selalu tergenang rob. Saat jalan ditinggikan, rumah-rumah di sekitarnya juga direnovasi. Namun, ada pula yang lantainya hanya diuruk, sementara bentuk fisik bangunannya tetap.

Untuk postur setinggi lebih dari 180 sentimeter, saya harus merunduk cukup dalam agar bisa masuk ke Sanggar Walesan, belum lama ini. Saya baru bisa berdiri tegak setelah berada di dalam toko, yang kala itu ditunggui Yongki, anak Suyono.

Suyono memang sudah nggak lagi di Sanggar Walesan. Usianya sudah semakin senja. Toko alat pancing itu kini diwariskan Yongki, yang saat saya temui tengah sibuk mereparasi alat pancing.

“Maaf ya, saya sambil kerja,” kata Yongki, ramah. Dia serius sekali. Tangannya sibuk mengutak-atik joran. Sementara, di belakangnya sejumlah alat pancing rusak berderet, mengantre layaknya pasien di klinik, menanti untuk direparasi.

Bikin Alat Pancing Sendiri 

Mengukur mata pancing. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Mengukur mata pancing. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tanpa menghentikan kegiatannya mereparasi alat pancing, Yongki mulai membuka obrolan dengan bercerita ihwal berdirinya Sanggar Walesan. Dia mengatakan, nama "Sanggar Walesan" dicetuskan oleh ayahnya, diambil dari kata "walesan", kata dalam bahasa Jawa yang berarti joran.

Nama Sanggar Walesan, lanjutnya, dipilih agar mudah diingat. Nggak hanya mereparasi, toko ini juga memproduksi alat pancing. Yongki mengklaim, satu-satunya tempat di Semarang yang membuat alat pancing secara manual hanyalah di tempatnya. Inilah yang membuat Sanggar Walesan terkenal.

“Toko lain biasanya jual paketan dari pabrik. Jadi, ya nggak sesuai selera,” kata dia.

Berbeda dengan kebanyakan toko alat pancing, Sanggar Walesan memang terkesan unik karena mereka menerima pembuatan alat pancing khusus yang bisa di-custom. Selain itu, para pelanggan juga dibebaskan untuk membawa suku cadang sendiri, lalu Yongki yang akan merakitnya

Yongki juga berani menjamin joran pancing custom bikinannya bagus. Maka, meski dari segi tempat mungkin tampak sederhana, produk yang terkesan eksklusif dan berkelas inilah yang menjadikan Sanggar Walesan cukup banyak didatangi orang. Peminatnya pun datang dari pelbagai kalangan.

Memilih Joran yang Paling Cocok

Yongki dan walesan bikinannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Yongki dan walesan bikinannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dulu, Yongki mengungkapkan, joran pancing umumnya terbuat dari bambu. Namun, saat ini nggak banyak lagi yang minta dibuatkan joran bambu. Mengikuti zaman dan keinginan para pelanggannya, dia pun menggantinya dengan joran berbahan karbon atau fiber.

Welasan (joran) bikinan kami harus ringan tapi power-nya kuat untuk ngangkat ikan. Makanya, (dengan joran karbon atau fiber) pada cocok,” terangnya.

Terkait joran, Yongki menambahkan, pemilihan joran sejatinya sangat mempertimbangkan di mana seseorang mau memancing. Memancing di tengah laut tentu akan berbeda dengan memancing di pinggir laut (surf casting). Bahkan, jorannya berbeda untuk di danau atau kolam.

Nah, menyesuaikan kultur dan kondisi geografis Semarang, menurut Yongki, kebanyakan joran yang laku di Sanggar Walesan adalah jenis untuk kolam dan pinggiran laut. Harga joran yang dijual beragam, antara Rp 600 ribu hingga Rp 3 juta, tergantung pelengkapnya seperti busa pegangan dan lubang benang pancing.

“Kami juga buka online. Pelanggan kami kebanyakan dari luar kota seperti Jakarta dan Bandung. Ada yang dari luar pulau juga,” aku dia.

Menjaga Kelestarian Alam

Layur Fishing Community beserta dokumentasi kegiatannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Layur Fishing Community beserta dokumentasi kegiatannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menurut saya, Sanggar Walesan bertahan hingga sekarang karena mereka konsisten dengan segala hal terkait dunia memancing. Kendati bisnis utama mereka adalah menjual alat pancing, Yongki sejatinya benar-benar menciptakan kultur itu di tempatnya.

Kecintaan Suyono pada dunia memancing agaknya benar-benar diturunkan kepada Yongki. Kalau punya waktu, cobalah bertandang ke Sanggar Walesan. Di tempat tersebut, kamu dijamin bakal tahu joran mana yang paling pas untukmu.

Dari segi keahlian, Yongki memang terbilang komplet. Kamu bisa membeli, mereparasi, bahkan meminta dibuatkan joran khusus di Sanggar Walesan. Oya, untuk menjaga kelestarian alam, mereka bahkan punya kegiatan rutin, yakni membuat rumpon ikan bersama “Layur Fishing Community”.

“Ya, kami sempat bikin acara-acara seperti itu (Layur Fishing Community)," ujar Yongki. Sekalian mancing!"

Layur Fishing Community adalah komunitas memancing bersama yang dilakukan bersama para pehobi memancing di Semarang. Nah, salah satu kegiatan rutinnya adalah membuat rumpon, bangunan di tengah laut yang nantinya bisa menjadi "rumah" bagi ikan-ikan. Sayang, program ini belakangan mandek. 

Buat kamu yang hobi mancing, penting banget untuk main-main ke Sanggar Walesan sih, Millens! Ha-ha. (Audrian F/E03)