Proses Panjang dan Waktu yang Cukup Lama untuk Sebuah Payung Lukis

Proses Panjang dan Waktu yang Cukup Lama untuk Sebuah Payung Lukis
Payung lukis. (Lagilibur)

Sempat berjaya, Juwiring yang pernah dikenal sebagai sentra pembuatan payung tradisional kini mulai menunjukkan diri sebagai penghasil payung tradisional di Jawa.

Inibaru.id - Sekitar 1960-an, sebuah pabrik di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, menjadi penampung payung-payung tradisional yang dibuat pengrajin setempat. Sayang, lantaran kalah dengan produk payung plastik modern, pabrik bernama Payung Pinda Aneka itu gulung tikar pada 1984.

Kepopuleran Juwiring sebagai penghasil payung pun memudar, bahkan nyaris tak didengar lagi. Namun, secercah harapan muncul beberapa tahun silam saat beberapa kelompok pengrajin payung tradisional mulai unjuk diri.

Sekurangnya ada dua kelompok pengrajin payung tradisional—yang lebih dikenal sebagai payung lukis—di Juwiring. Ini sudah lumayan, meski bukannya tanpa kendala.

Proses pembuatan payung lukis cukup rumit. Pembuatan payung biasanya diawali dengan pencarian kayu mahoni, kenanga, atau bambu wulung, kemudian dipotong untuk jadi kerangka. Ini dilakukan kelompok pengrajin kerangka.

Untuk membuat 200-500 kerangka, pengrajin membutuhkan waktu seminggu. Proses ini merupakan proses paling rumit karena membutuhkan kemampuan khusus.

Setelah itu, kain ditempelkan pada kerangka dan dirapikan oleh kelompok pengrajin payung. Lalu, aksesori tambahan disematkan pada payung. Pengrajin juga memasang tangkai dan menur pada payung. Terakhir, pengrajin melukis payung secara manual dan mewarnainya dengan cat.

Payung kemudian dipasarkan ke masyarakat. Nggak hanya menjangkau seputar Klaten, payung-payung cantik ini juga dipasarkan ke luar daerah.

Gimana, Millens, berminat belajar membuat payung tradisional? (IB20/E03)