Pandai Besi Juyono: Melegenda di Semarang, Hanya Jualan Tiap Kliwon

Pandai Besi Juyono: Melegenda di Semarang, Hanya Jualan Tiap Kliwon
Membakar besi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Puluhan tahun menjadi pandai besi, Juyono hanya menjual dagangannya di Pasar Gunungpati Semarang saban hari pasaran Kliwon. Namun demikian, produk bikinannya selalu laku keras dan pembelinya bisa sampai luar Jawa.

Inibaru.id - Lelaki ini telah kepala enam. Namun, masih kuat tangannya mengayun godam, menempa besi merah dari pembakaran, menimbulkan suara berdentang-dentang di segala penjuru wilayah yang disebut Kampung Pandai Besi tersebut.

Dialah Juyono, sosok paruh baya yang telah melakoni profesi sebagai pandai besi sejak 1970. Lelaki yang kini berusia 66 tahun tersebut sehari-hari menempa besi di Kampung Kaligetas, Kelurahan Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Lokasi Juyono menempa gaman dan perkakas besi cukup sederhana, hanya berada di sebidang ruang di depan rumahnya. Saat saya temui dua pekan lalu, nggak banyak peralatan yang ada di situ kecuali beberapa godam (martil besar), landasan besi, dan tungku api. Semuanya ala kadarnya.

Juyono adalah "empu" generasi ketiga. Dia meneruskan ilmu pande dari bapaknya, Karimin, yang diturunkan dari Sujak, sang kakek. Juyono mengatakan, kakeknya sudah mulai melakoni profesi pandai besi sejak 1940-an.

Semakin ditempa, semakin membentuk. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Semakin ditempa, semakin membentuk. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di Kampung Pandai Besi Semarang, Juyono adalah pandai besi paling senior. Para pandai besi di kampung tersebut awalnya juga belajar dari Juyono.

“Zaman dulu masih kuno, dibakar ala kadarnya pakai kipas satai," ujar Suyono sembari merapikan permukaan besi yang belum rata, "Tapi, untuk kualitas teruji!”

Produk yang dibuat Juyono mencakup linggis, pacul, kunci besi, dan arit. Kata dia, ada yang membedakan seorang pandai besi dengan tukang las. Tukang las hanya merangkai-rangkai besi, sedangkan pandai besi menciptakan besi menjadi perkakas.

Dalam sehari, Juyono mengaku bisa membuat hingga 10 alat. Produk bikinannya berukir nama "KN III" yang berarti generasi ke-3 dari Karimin. Dia biasa menjual perkakas bikinannya di Pasar Gunungpati saban pasaran Kliwon, tapi nggak sedikit pula yang membeli langsung di kediamannya.

Butuh Perhitungan Matang

Memoles peralatan yang sudah jadi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Memoles peralatan yang sudah jadi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Perlu kamu tahu, profesi pandai besi nggak cuma pukul-pukul besi pakai palu hingga jadi. Butuh kontemplasi dan perhitungan yang matang untuk menempa besi menjadi perkakas terbaik

“Yang penting laku prihatin saja. Semua pandai besi wajib menjalani itu,” simpul Juyono, yang kemudian menjelaskan gimana besi-besi di tangannya diubah menjadi barang-barang berdaya guna.

Pertama, hal paling penting bagi Juyono adalah pemilihan bahan. Dia menggunakan lempengan besi bekas dari per daun (leaf spring) yang biasa dipakai untuk suspensi mobil. Menurutnya, kekuatan besi ini kuat dan nggak rapuh saat ditempa.

“Setelah dapat bahan, lempengan besi digambar sesuai permintaan. Misal, untuk membuat arit, dibuatlah bulan sabit,” terangnya.

Palu beserta lengan sang pandai besi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Palu beserta lengan sang pandai besi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Setelah digambar, besi dibakar di atas tungku api bersuhu sekitar 500 derajat Celsius untuk bisa dibentuk dengan cara ditempa. Juyono menempa besi secara manual, menggunakan beberapa godam. Di ruang kerjanya, saya bisa melihat ada sekitar 5-6 palu berukuran besar yang cukup berat.

“Masing-masing punya fungsi berbeda. Ada yang untuk menghancurkan, membengkokkan, menempa, dan menghaluskan,” tutur Juyono, menerangkan fungsi masing-masing palu yang ada di ruang kerjanya.

Setelah proses menempa selesai, besi dibakar, kemudian digerinda. Penggerindaan dilakukan untuk menyempurnakan bentuk perkakas buatannya. Selesai digerinda, perkakas setengah jadi itu kemudian direndam di dalam air untuk menurunkan suhu.

Terakhir, pengasahan. Lantaran kebanyakan perkakas yang dibuat Juyono adalah benda tajam untuk pekerjaan berat, dia mengaku butuh perhitungan matang saat mengasah dan mengatur ketajaman perkakas tersebut.

“Harus bisa membedakan sisi yang tajam dan tidak. Kadang, perhitungan seperti ini sering dilalaikan,” katanya.

Diwariskan ke Anak

Merendam arit. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Merendam arit. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sadar dengan umur yang kian senja, Juyono kini mewariskan kemampuan menempa besi kepada anaknya. Nggak hanya saat membuat, anaknya juga kerap menyertainya berjualan di Pasar Gunungpati saban Kliwon. 

Oya, Kliwon adalah satu dari lima hari pasaran (pancawara) dalam penanggalan Jawa dan Bali. Kendati hanya berjualan sehari dalam sepekan, Juyono mengaku cukup. Produk bikinannya yang dibanderol antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu juga cepat laku terjual.

Alat-alat yang laku terjual biasanya bergantung pada musim atau menjelang perayaan tertentu. Musim penghujan, misalnya, produk paling laku adalah pacul dan arit. Sementara, menjelang Hari Raya Iduladha, pisau dan bendo (semacam golok berukuran pendek dan tebal) paling laku.

“Masyarakat Mijen dan Gunungpati banyak yang bekerja di kebun atau sawah, jadi banyak yang minat,” ungkapnya.

Juyono mengklaim, perkakas besi buatannya sudah tenar di mana-mana, bahkan pelanggannya hingga luar Jawa. Dia bahkan mengaku pernah membuatkan bilah pisau pembajak sawah pesanan anak dari Presiden ke-2 Indonesia Tommy Soeharto.

Memilih produk. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Memilih produk. (Inibaru.id/ Audrian F)

Apa yang diucapkan Juyono tentu bukanlah isapan jempol belaka. Jumaeri, salah seorang pelanggan yang kebetulan saya temui di "bengkel" Juyono, mengiyakannya. Lelaki yang tengah menunggu arit pesanan itu mengatakan, perkakas buatan Juyono rapi dan tampak telaten bikinnya.

“Mengasahnya halus, nggak kayak orang lain, apalagi pabrik," tutur Jumaeri.

Seperti menempa besi, pengalaman Juyono puluhan tahun adalah bukti. Semakin besi ditempa dan ditelateni, semakin kuat dan halus pula hasilnya. Begitu pun kemampuan pandai besi kenamaan di Kota Semarang ini. Salut! (Audrian F/E03)