Mendulang Rupiah dari Bisnis Suvenir Gerabah

Mendulang Rupiah dari Bisnis Suvenir Gerabah
Proses produksi kerajinan gerabah di galeri Supoyo. (Kumparan/Elsa Olivia)

Selain mengubah kebiasaan yang berkembang di desanya, usaha Supoyo dalam membuat kerajinan gerabah juga mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Usahanya tersebut juga mampu melestarikan warisan turun menurun di desanya.

Inibaru.id – Di Desa Klipoh, Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah mulanya usaha pembuatan gerabah hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Sementara kaum lelaki hanya bertugas mencari bahan baku berupa tanah liat di sawah.

Namun kini kebiasaan tersebut perlahan berubah. Supoyo, lelaki 48 tahun itulah yang berusaha membuat inovasi bahwa lelaki juga dapat ikut membuat gerabah. Dia merupakan lelaki Desa Klipoh pertama yang mau ikut membuat gerabah.

Supoyo di galerinya. (Kumparan/Elsa Olivia)

Sejak 2004 Supoyo berusaha untuk memajukan industri kerajinan gerabah di desanya dengan membuka galeri. Kerajinan gerabah yang dihasilkan Supoyo pun bermacam-macam. Mulai dari cobek, kendi, hingga patung para tokoh seperti Buddha dan Sidharta Gautama. Harganya setiap kerajinan bervariasi, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Usaha Supoyo nggak sia-sia. Saat ini dia bisa memeroleh pendapatan hingga Rp 10 juta setiap bulannya. Kerajinan gerabah Supoyo telah dipasarkan hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Membuka Kelas Kerajinan

Niat Supoyo untuk melestarikan kerajinan gerabah di wilayahnya nggak hanya diwujudkan dengan membuat produk. Sejak 2016 dia juga membuat kelas bagi warga yang berminat untuk menjadi pengrajin gerabah. Hingga 2018, jumlah warga yang ada di Desa Klipoh telah mencapai 84 orang lo.

Kelas kerajinan ini juga terbuka untuk wisatawan, Millens. Harganya pun relatif terjangkau. Wisatawan dari kalangan pelajar akan dikenai biaya sebesar Rp 20 ribu untuk tiga kali pertemuan. Sementara, wisatawan domestik akan dikenai biaya yang sama untuk satu kali pertemuan.

Ragam hasil kerajinan gerabah di galeri Supoyo. (Kumparan/Elsa Olivia)

Kelas ini sengaja diadakan oleh Supoyo agar kerajinan gerabah tetap lestari terutama di tangan generasi muda.

“Sayang jika kerajinan gerabah yang sudah turun menurun hingga 10 generasi tiba-tiba berhenti di generasi muda,” pungkas Supoyo, dikutip dari Kumparan, belum lama ini.

Sobat Millens berminat untuk membeli suvenir gerabah atau sekalian ikut kelas kerajinannya? Sambil belajar, sambil melestarikan budaya juga nih! (IB10/E03)