Memikat Selera Orang Semarang dengan Bubur Ayam ala Mang Dede

Memikat Selera Orang Semarang dengan Bubur Ayam ala Mang Dede
Bubur yang dipenuhi berbagai topping menjadi ciri khas Bubur Ayam Mang Dede. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Bubur ayam bukanlah masakan istimewa di Kota Lunpia. Namun, kepiawaian Mang Dede melihat peluang dan berinovasi dalam menjalankan usaha bubur ayam membuatnya bertahan selama 15 tahun. Gimana lelaki asal Bandung itu memikat selera orang Semarang dengan bubur ayam? 

Inibaru.id – Bertahan belasan tahun dan punya banyak pelanggan loyal tentu sudah cukup menjadi gambaran bahwa Bubur Ayam Mang Dede cukup memikat selera orang Semarang. Hampir tiap hari, kedai yang berada di Jalan Sompok, Lamper Kidul, Semarang Selatan, itu nggak pernah sepi antrean.

Konon, menaklukkan lidah orang Semarang adalah tantangan tersendiri. Di kalangan pengusaha, Semarang kerap menjadi ujian. Nggak sedikit bisnis kuliner yang ambruk nggak lama setelah didirikan. Namun, kalau bertahan, mereka percaya bakal lebih mudah mendirikan cabang di kota lain.

Nah, karena alasan inilah bisnis kuliner yang bertahan hingga belasan tahun atau lebih di Kota Lunpia biasanya sudah menjadi semacam "legenda". Terlepas dari adanya keberuntungan, masakan yang dijual biasanya dijamin enak, harganya pas, kualitasnya juga nggak diragukan lagi, seperti Bubur Ayam Mang Dede.

Memikat Selera Orang Semarang 

Mang Dede, sang istri, dan anaknya sedang meracik bubur ayam pesanan pelanggan. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Mang Dede, sang istri, dan anaknya sedang meracik bubur ayam pesanan pelanggan. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Bubur ayam jumbo yang dibanderol Rp 20 ribu untuk porsi penuh ini memang selalu diminati pembeli tiap hari. Ade Ka’un, sang pemilik, juga kini tinggal menikmati hasilnya. Namun, kesuksesan itu tentu saja nggak terjadi begitu saja. Butuh strategi dan aksi coba-coba untuk hasil yang mumpuni seperti sekarang ini. Hm, apa saja ya tipsnya?

1. Ikuti Selera Pasar

Mang Dede, begitu pelanggannya biasa menyapa Ade Ka’un, mengungkapkan, hal pertama yang harus dilakukan saat membuka usaha, termasuk kuliner, adalah menyesuaikan dengan lingkungan tempat usaha itu didirikan.

“Seperti saya ini, kan berasal dari Bandung; di sana lebih dominan makanan asin, berbeda dengan di sini (Semarang) yang lebih suka yang manis-asin. Ya sudah, sesuaikan dengan lidah setempat,” kata dia.

2. Konsistensi Rasa

Setelah melakukan riset selera pasar, hal yang juga perlu diperhatikan adalah konsistensi rasa. Untuk mendapatkannya, Dede mengaku harus menggunakan bahan yang benar-benar dipilih dengan baik. Takarannya dan cara memasaknya pun harus tepat. 

Dia kemudian mencontohkan pembuatan bubur yang merupakan inti dari dagangannya. Menurutnya, dalam membuat bubur, takaran beras dan airnya harus pas. Beras yang dipakai pun harus benar-benar dipilih yang bagus.

"Ada beras yang nggak begitu suka banyak air, ada yang sebaliknya," ungkap Dede. "Jadi, harus bisa menyesuaikan takaran beras dan air itu (agar hasilnya sesuai)."

3. Tampil Beda

Berbagai macam topping yang disediakan Mang Dede untuk bubur ayam yang dijualnya. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Berbagai macam topping yang disediakan Mang Dede untuk bubur ayam yang dijualnya. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Dalam penggunaan bahan dan bumbu, Dede mengaku nggak banyak bedanya dengan kebanyakan bubur ayam di Semarang. Namun, memang ada beberapa hal yang enggan diubah Dede, yang justru bakal menjadikan ciri khas kedai tersebut.

Lantaran mengklaim kedainya sebagai "bubur ayam khas Bandung", dia mengaku menyertakan bumbu ala orang Sunda. Berbeda dengan orang Jawa yang umumnya memasak bubur dengan menambahkan daun pandan sebagai pemberi aroma, orang Sunda menggunakan daun salam.

Menurut Dede, tampil beda memang diperlukan dalam bisnis kuliner. Selain aroma bubur, dia juga tampil beda dengan menyajikan porsi jumbo plus topping yang berlimpah. Namun, nggak sekadar banyak, penataannya juga harus dipertimbangkan.

“Penataan dan padu padan topping nggak bisa asal-asalan. Terus, harus rapi dan bersih (menatanya),” papar Dede.

4. Memperhatikan Detail

Kalau kamu berkunjung ke kedai Mang Dede, kamu bakal tahu apa yang disebut rapi dan bersih. Lelaki yang dalam bekerja dibantu istri dan kedua anaknya ini memang tampak sangat memperhatikan detail. Menurutnya, hal ini penting.

Pemilihan topping misalnya, dia mengaku sangat memperhatikan selera masyarakat. Cakwe yang biasanya menjadi bagian dari topping bubur ayam digantinya dengan tahu-ati-ampela dan ayam serundeng yang lebih menggugah selera.

Hal serupa juga berlaku saat memasak. Terkait hal ini, Dede teringat pada satu cerita. Suatu ketika, bubur ayamnya yang diduga mengandung pengawet, karena punya ketahanan hingga malam, dibawa ke sebuah laboratorium di salah satu RS di Semarang untuk dicek. Dugaan ini pun nggak terbukti.

Menurutnya, dalam memasak itu perlu memperhatikan detail. Memasak itu, lanjutnya, harus tanek, jangan asal matang.

"Kalau tanek bisa tahan lama dan nggak cepat basi,” pungkasnya.

Nah, itulah effort yang dilakukan Dede untuk memikat selera orang Semarang dengan bubur ayam buatannya. Tertarik mempraktikkannya, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)