Meraup Rezeki Saat Ramadan, Kenapa Tidak?

Saat Ramadan tiba, sejumlah orang memanfaatkannya untuk mencari rezeki di bulan yang penuh berkah itu. Nggak jarang, mereka harus mengorbankan waktu dan tenaganya untuk melayani para pembeli. Bagaimana ceritanya?

Meraup Rezeki Saat Ramadan, Kenapa Tidak?
Berjualan takjil saat bulan Ramadan. (Tribunnews.com)

Inibaru.id – Sejumlah orang memanfaatkan momen Ramadan untuk mencari keuntungan dengan berjualan. Beberapa usaha yang kerap dijalankan saat Ramadan adalah usaha makanan dan pakaian. Kendati bisa mendapat keuntungan yang berlimpah, mereka juga harus menanggung risikonya seperti kehilangan waktu bersama keluarga atau teman.

Nur Hidayati menjadi satu di antara penjual yang merasakan hal tersebut. Perempuan yang membuka usaha katering makanan buka dan sahur itu mengaku waktu istirahatnya terganggu terlebih saat menyiapkan katering sahur. Dia hanya bisa beristirahat sebentar selepas salat Subuh.

“Setiap hari masak dari sore sampai sahur nggak berhenti,” katanya sambil mengiris bawang merah.

Sejak hari pertama Ramadan,ibu dua anak itu kebanjiran pesanan terutama saat sahur. Ini bisa dimaklumi karena orang-orang cenderung malas beraktivitas lebih saat sahur. Lebih lagi, pelanggannya sebagian besar adalah mahasiswa yang tinggal di indekos sehingga lebih suka yang praktis.

Nggak hanya itu, dia juga menyediakan jasa pesan antar sehingga pelanggan nggak perlu mengambil makanan ke rumahnya yang berlokasi di Tembalang, Semarang. Nah, untuk jasa pesan antar ini, Nur memercayakannya pada suami dan adiknya. Mereka berdua bertugas mengantar makanan ke rumah pelanggan yang sebelumnya sudah disurvei.

Beda Nur, beda pula Saini. Nenek berusia hampir 60 tahun ini sudah berjualan es kelapa muda saat Ramadan sejak 2008. Setiap menjelang waktu berbuka, Saini menjajakan es kelapa mudanya di Taman Tirto Agung, Banyumanik, Semarang.

“Kalau sekarang yang beli itu paling banyak mahasiswa, anak-anak muda yang cari takjil di daerah taman sini,” katanya sambil mengerok daging kelapa muda dari batoknya.

Usaha berjualan kelapa muda itu diakui Saini menyita waktunya untuk berkumpul bersama keluarga. Dia juga rela nggak berbuka puasa di rumah karena harus berjualan di taman tersebut.

“Karena jualan, jadi cuma bisa berbuka di taman (Tirto Agung). Padahal, saya sebenarnya pengin makan bareng cucu di rumah. Makanya, kadang libur sekali dalam sebulan biar bisa kumpul saat berbuka,” tandasnya.

Kendati begitu, Saini tetap semangat berdagang untuk mencari uang tambahan sebagai bekal Lebaran nanti.

“Uang hasil jualan buat nyanguni cucu. Kalau kumpul keluarga kan banyak cucu, nggak tega saya kalau nggak ngasih uang jajan. Kapan lagi bisa ngasih cucu,” jelas Saini.

Hal yang sama juga dirasakan Sutawi. Pria yang berasal dari Pati ini sudah 12 tahun menjual sup buah di Jalan Sirojudin, Tembalang, Semarang. Karena hal tersebut dia harus rela menyisihkan waktunya sejak pukul 2 siang hingga pukul 7 malam untuk menyiapkan dan menjual sup buah.

“Selain capek, nggak bisa buka puasa sama anak di rumah, tapi dari sini saya dapat uang tambahan selama Bulan Puasa. Sangat menguntungkan, kalau bisa setiap hari saja bulan puasa,” jawabnya sebelum terkekeh.

Wah, salut deh buat mereka. Semoga berkah jualannya ya Pak, Bu, Mbah. (Verawati Meidiana/E04)