Makan sembari Berkesenian di Kopium Kafe

Kamu pemburu kuliner? Kamu juga pencinta seni? Hm, di Semarang, keduanya bisa kamu dapatkan di Kopium Kafe. Penasaran seperti apa? Yuk, pantau!

Makan sembari Berkesenian di Kopium Kafe
Konsep homie dan artistik di Kopium kafe. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Inibaru.id – Bisnis kafe modern nggak melulu tentang makanan apa yang disajikan. Selain layanan, satu hal yang juga sering dijadikan pertimbangan pengunjung kafe adalah konsep kafe tersebut. Keunikan selalu menjadi nilai plus sebuah kafe, nggak terkecuali di Kopium Kafe.

Berlokasi di Jalan Tusan Raya No 26, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Kopium Kafe memang dikonsep sedemikian rupa sehingga tampak begitu artistik. Ratusan lukisan pada dinding kafe dan mural abstrak di ruangan tersebut begitu menarik dipandang.

Ya, atmosfer seni begitu kentara di sana. Buat pencinta seni atau yang suka berkreasi seni, tempat makan ini cocok banget untuk kamu kunjungi.  

Salah satu pengunjung sedang memilih buku di kopium kafe. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Ahmad Agus Bin Abdurahman, sang pemilik, memang sengaja menjadikan Kopium Kafe sebagai “sarang” bagi orang-orang yang menyukai keindahan, terutama seni.

"Seni dalam sebuah kafe merupakan cara kami untuk membuat pengunjung nyaman," jelas lelaki yang akrab disapa Gus Par itu kepada Inibaru.id belum lama ini.

Fasilitas Berkesenian

Gus Par bercerita, lukisan-lukisan yang ada di Kopium Kafe adalah karya pengunjung yang dibuat di kafenya. Nggak hanya lukisan, dirinya bahkan membebaskan pengunjung untuk berkesenian sesuai dengan kesukaan mereka.

"Pengunjung bisa melukis, bernyanyi, bersyair, hingga berkegiatan lain yang sifatnya positif," terangnya.

Nah, untuk menyulut keinginan berkesenian itu, Gus Par sengaja menyediakan fasilitas pendukungnya, semisal alat lukis, alat musik, dan lain-lain.

Beragam lukisan yang memenuhi dinding, spot yang cocok buat para instagramable. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Agenda Rutin

Gus Par juga rutin menggelar acara di Kopium Kafe untuk menarik pengunjung. Beberapa agenda itu di antaranya gelaran musik akustik, tadarus puisi, suluk teater, dan suluk sastra. Khusus yang terakhir, Kopium Kafe berkolaborasi dengan Surau Kami, pesantren dan rumah kebudayaan yang juga dikelola Gus Par.

Suluk sastra adalah diskusi sastra yang dikemas lengkap dengan kritiknya. Gus Par biasanya mendatangkan pembicara yang punya kompetensi di bidang sastra seperti Budi Maryono, salah seorang sastrawan yang cukup mumpuni di Semarang.

Menikmati seni yang terpanjang di dinding dalam kafe sekligus rumah kebudayaan. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Bikin Ketagihan

Bukan tanpa alasan Kopium Kafe dinamai demikian. Kepala marketing Kopium Kafe Merry Naufa mengatakan, sesuai namanya yang merupakan plesetan dari "opium", sang pemilik menginginkan kafenya serupa opium yang bikin ketagihan atau kecanduan.

Dikelilingi karya seni dengan suasana yang homey, tempat ini memang bikin orang pengin balik lagi, bahkan bagi pengunjung yang nggak begitu menyukai seni sekali pun. Merry mengatakan, agar pengunjung betah dan ketagihan, pihak Kopium Kafe selalu mencoba melibatkan siapa saja yang ada di kafe.

“Kami tidak hanya menghias kafe, tetapi menghias hati para pengunjung untuk ikut terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya yang kita sajikan,” terangnya.

Suasana di luar kopium kafe. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

So, buat kamu yang pengin hiburan positif, bertandang ke Kopium Kafe mungkin bisa menjadi pilihan tepat. Kafe tersebut buka setiap hari pukul 15.00 sampai 03.00 WIB. Hm, bisa datang pas gabut tengah malam, Millens! Ha-ha. Yuk, makan sambil berkesenian! (Hayyina Hilal/E03)