Dari Tangan Renta Yanuri Kerai-Kerai Bambu Itu Tercipta

Usaha pembuatan kerai bambu dijalani Yanuri dengan penuh ketekunan. Semenjak "pensiun" dari buruh lepas, usaha itu dijalaninya setapak demi setapak. Kini, bisnis itu mulai menunjukkan hasil. Seperti apa perjuangannya ya?

Dari Tangan Renta Yanuri Kerai-Kerai Bambu Itu Tercipta
Yanuri, pengrajin kerai bambu asal Desa Gondang. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Inibaru.id – Bambu adalah salah satu tanaman yang hampir seluruh bagiannya bisa kita manfaatkan. Mulai dari akar, batang, hingga daun bambu telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Nggak sedikit pula pengrajin yang memanfaatkan bambu sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan tangan mereka.

Nah, bicara tentang kerajinan bambu, Yanuri, salah seorang pengrajin bambu, memanfaatkan tanaman yang termasuk jenis rumput-rumputan tersebut sebagai buah karyanya. Nggak sekadar iseng, lelaki asal Desa Gondang, Kecamatan Cepiring, Kabupten Kendal, Jawa Tengah, itu menjadikan bambu sebagai kerajinan yang bernilai ekonomi cukup menggiurkan.

Yanuri adalah seorang pengrajin kerai bambu yang biasa digunakan sebagai pemanis dekorasi rumah. Oya, sebagai informasi, kerai adalah semacam jalinan bilah bambu yang biasa digunakan sebagai penutup pintu, jendela, atau sekat antarruangan.

Sebelum menjadi seorang pengrajin kerai, Yanuri adalah seorang mandor di salah satu pabrik tebu di Kendal sejak 1971. Pekerjaan itu bertahan hingga lima tahun, sebelum kemudian beralih menjadi buruh harian lepas. Namun, menjelang senja, lelaki paruh baya itu kemudian memutuskan untuk menjadi pengrajin bambu.

Proses pemotongan bambu oleh Yanuri. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

“Ya, karena saya memiliki banyak waktu luang lebih baik saya mencari pekerjaan yang halal dan menguntungkan di masa tua saya,” ujar Yanuri kepada Inibaru.id di kediamannya, belum lama ini.

Yanuri memulai membuat kerajinan kerai bambu sejak 2003. Sebelumnya, Yanuri pernah membuat tikar lipat. Namun, lantaran keterbatasan bahan dan sepinya peminat, dia pun lebih memilih untuk membuat kerai. Hingga kini, kerai buatannya masih laku dijual. Usahanya berjalan cukup lancar dan sering mendapat pesanan.

Untuk menghasilkan lima hingga enam kerai, Yanuri menghabiskan waktu sekitar tiga hingga empat hari. Namun, dia nggak bekerja sendiri. Usia yang kian menua membuat dirinya harus berbagi beban kerja. Dia mempekerjakan tiga karyawan yang bertugas mengupas dan merapikan kulit bambu yang sudah dipotong agar pekerjaan cepat selesai.

Sementara, untuk urusan menganyam bambu menjadi kerai atau tirai, Yanuri tetap mengerjakannya sendiri dengan dibantu sang istri, Rozana.

Proses merapikan sisi-sisi bambu setelah dipotong. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Semula, Yanuari mengaku menjajakan kerai buatannya dengan mengendarai sepeda kayuh. Namun, sejak 2007, lelaki kelahiran Kendal, 2 Oktober 1951 itu berganti kendaraan. Dia kini sudah memakai sepeda motor untuk menjajakan hasil karyanya itu.

Dia biasa memasarkan kerainya sendiri di Kendal dan sekitarnya. Namun, terkadang ada juga pembeli yang datang langsung ke rumahnya untuk memesan kerai custom. Selain kerai, Yanuri juga membuat keranjang untuk ayam yang hanya dibuat sesuai pesanan. 

Biasanya, Yanuri membuat kerai berukuran 1 x 1,5 hingga 2 meter. Namun, kadang ada juga yang memesan kerai ukuran khusus sesuai permintaan.

Satu kerai dijualnya dengan harga Rp 120 ribu. Dalam sebulan, Yanuri mengaku bisa mengantongi omzet sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

“Nggak banyak, tapi nggak sedikit juga. Ini cukup untuk kebutuhan sehari-hari saya dan istri,” jelas lelaki bersahaja tersebut.

Hail kerajinan kerai bambu. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Hm, keren ya perjuangan kakek satu ini. Nah, kalau kamu berminat dengan kerajinan kerai semacam itu, kamu bisa datang langsung ke rumah Pak Yanuri di Desa Gondang, Kabupaten Kendal ya. Semangat, Pak Yanuri! Terus berkarya tanpa batas!(Hayyina Hilal/E03)