Limbah Kulit Singkong dan Batang Pisang Jadi Bahan Baku Alternatif Pesawat? Bisa!

Limbah Kulit Singkong dan Batang Pisang Jadi Bahan Baku Alternatif Pesawat? Bisa!
Raafi dan Suprihatin mengubah limbah menjadi bahan baku pesawat. (klikmania.net)

Dua "millenials" asal Pati ini mengolah limbah kulit singkong dan batang pisah menjadi bahan baku alternatif badan pesawat dan kapal. Hm, bagaimana ya ceritanya?

Inibaru.id – Setiap harinya di Kabupaten Pati dihasilkan limbah kulit singkong yang melimpah. Jumlahnya bisa mencapai sekitar 10 ton lo. Jumlah itu terus bertambah setiap harinya.

Nggak pengin hanya membiarkan limbah itu menjadi sampah, dua remaja asal Pati membuat sebuah riset dan menjadikannya proyek ilmiah.

Mereka adalah Raafi Jaya Sutrisna dan Suprihatin. Dalam proyek mereka, limbah kulit singkong bisa diolah menjadi bahan alternatif bahan industri pesawat dan kapal.

Proyek ilmiah itu sudah berjalan sejak Raafi dan Suprihatin masih SMA. (youngster.id)

Nggak hanya kulit singkong, batang pisang pun menjadi objek mereka. Yap, Raafi dan Suprihatin mengolah limbah-limbah itu menjadi karbon aktif, Millens.

Karbon aktif itu dijadikan pengganti serat fiber yang selama ini menjadi salah satu bahan pembuat badan pesawat dan kapal. Bahan baku dari limbah itu diklaim lebih kuat, efisien, ringan, tahan api, dan tahan korosi.

Oya, penggunaan karbon aktif dari bahan limbah secara nggak langsung bakal mengurangi penggunaan serat fiber tuh. Hm, bakal lebih ramah lingkungan deh karena menggunakan serat alami.

FYI, proyek ilmiah Raafi dan Suprihatin tercipta sejak mereka masih bersekolah di SMA PGRI 2 Kayen, Pati, dua tahun silam.

Memenangkan Medali Emas

Republika.co.id (20/8/16) menulis, proyek ilmiah pengolahan limbah kulit singkong dan batang pisang itu menyabet medali emas dalam ajang International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) di Georgia pada 2016 lalu.

Raafi dan Suprihatin dalam ajang IYIPO di Georgia pada 2016. (jadiberita.com)

Raafi dan Suprihatin menyisihkan lebih dari 100 proyek ilmiah dari 35 negara di dunia seperti Amerika Serikat, Denmark, Jerman, dan lainnya. Hebat ya!

Wah, jadi nggak sabar melihat ide Raafi dan Suprihatin benar-benar direalisasikan khususnya di Indonesia. Semoga lancar ya, Raafi dan Suprihatin! (IB10/E05)