Layanan Video Streaming Berbayar Jadi Bisnis yang Semakin Diminati

Layanan Video Streaming Berbayar Jadi Bisnis yang Semakin Diminati
Perusahaan Over the Top (OTT) lokal Indonesia. (Youngster.id)

Meski minat pengiklan untuk memasang iklan di TV masih lebih tinggi, bisnis video streaming diprediksi akan semakin diminati hingga 2022 mendatang.

Inibaru.id -  Salah satu usaha yang sedang moncer di bidang digital adalah bisnis layanan video over-the-top (OTT). Disebut juga video streaming berbayar.

Jika kamu suka nonton film atau sinema dari layanan penyedia film digital berbayar seperti Netflix, HOOQ, dan lainnya, itulah yang dinamakan video over-the-top, Millens.

“Ketika orang terus mengubah cara mereka mengakses konten di perangkat yang semakin canggih, maka data yang lebih kuat diperlukan untuk membangun pemahaman yang lebih dalam tentang kebiasaan konsumen. Akan ada pergeseran penjualan iklan berdasarkan pola konsumen yang lebih detail dan kompleks,” ujar peneliti, dikutip dari youngster.id (20/06/2018).

Menurut laporan Global Entertaiment and Media Outloook 2018-2022 PricewaterhouseCooper, tercatat bahwa total pendapatan bisnis video OTT semakin menanjak sejak 2017.

Layanan video streaming yang selalu laris manis. (shuttlestock.com)

Konten-konten original menjadi penyumbang terbesar dari meningkatnya pendapatan tersebut. Netflix, Amazon, dan Hulu pun mendominasi usaha video streaming berbayar saat ini.

“Tantangan bagi penyedia OTT adalah bagaimana menyeimbangkan biaya tinggi dari produksi konten original dengan harga yang harus terus menarik pelanggan tanpa menekan margin,” ungkap peneliti dalam laporannya.

Pada 2017 pendapatan bisnis ini mengalami peningkatan 15,2 persen dari tahun sebelumnya. Dan pada 2018 ini meski angkanya melambat, pendapatan pelaku bisnis video OTT tetap meningkat pada kisaran 12,2% atau sekitar 22,6 miliar dolar AS. Wah!

Melansir dari kompas.com (15/06/2018), bisnis video OTT ini diprediksi akan menuai keuntungan sampai sekitar 30,6 miliar dolar AS pada 2022 mendatang.

TV Masih Jadi Favorit Pengiklan

Kendati demikian, televisi konvensional masih menjadi pilihan utama para pengiklan. Bahkan angka biaya iklan untuk televisi konvensional tetap besar bahkan mencapai 71 miliar dolar AS.

“TV tetap menjadi tujuan periklanan utama bagi para pemasar yang mau menggelontorkan dana besar untuk kampanye produk,” kata peneliti.

Perubahan perilaku konsumen yang beralih pada penggunaan internet dan konsumsi video streaming akan menuntut para pengiklan untuk lebih banyak menggelontorkan dana kampanye multichannel. Inilah yang menjadi faktor pendorong keuntungan bisnis video OTT hingga 2022 mendatang. Hmm

Tertarik untuk mencoba bisnis tersebut, Millens? (IB12/E05)