Kue dan Batik, Hasil Olahan Mangrove yang Ciamik
Batik motif pesisiran dengan pewarna alami dari mangrove (Inibaru.id/Artika Sari)

Kue dan Batik, Hasil Olahan Mangrove yang Ciamik

Mangrove nggak hanya berfungsi sebagai tanaman penahan abrasi. Di Tapak dan Mangunharjo, Semarang, tanaman ini juga diolah menjadi makanan yang enak dan pewarna batik yang menawan.

Inibaru.id – Akrab dengan lingkungan pesisir yang dipenuhi mangrove, ibu-ibu rumah tangga di Dusun Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Semarang berinisiatif untuk mengolah buah mangrove menjadi makanan. Ibu-ibu yang tergabung dalam UMKM Putri Tirang ini mencoba peruntungan dengan memasarkan makanan hasil olahan mangrove miliknya.

“Saya belajar membuat makanan dari mangrove itu karena setiap kali ada kunjungan tamu dari luar nggak ada yang menyajikan makanan khas Tapak seperti kue brayo dan bolu mangrove. Ibu-ibu di sini lalu inisiatif bikin kelompok UMKM Putri Tirang sekitar akhir tahun 2012. Jadi kalau ada penanaman (mangrove) tinggal pesan saja di kami.” tutur UMKM Putri Tirang Muhayanah.

Baca juga:
Menilik Manfaat Mangrove bagi Masyarakat
Menjadi Anak Muda Pelestari Mangrove, Kenapa Tidak?

Ibu-ibu itu mengolah buah dari tumbuhan api-api atau Avicennia spp menjadi aneka makanan seperti kue brayo dan bolu mangrove. Butuh waktu yang lama untuk membuat kue dari mangrove. Buah mangrove itu harus direndam dalam air tawar selama tiga hari. Setiap pagi dan sore airnya pun harus diganti agar menghilangkan getah mangrove. Setelah itu, kulit buah mangrove dibuang kemudian isinya direbus dan dihaluskan untuk dicampur dengan bahan-bahan pembuat kue lain.

Bolu mangrove. (Biotaekosistem.blogspot.com)

Jangan khawatir, meski pembuatannya rumit tapi kue tersebut dijual dengan harga yang terjangkau lo, Millens. Muhayanah mengungkapkan dirinya menjual hasil olahan mangrove itu dengan mematok harga sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu untuk setiap kemasannya.

Selain diolah menjadi kue, buah mangrove juga bisa dimanfaatkan menjadi pewarna alami. UMKM Srikandi dan Wijayakusuma yang bermarkas di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang membaca peluang itu secara tepat. Mereka mengubah buah mangrove menjadi pewarna alami yang digunakan sebagai pewarna batik.

Pewarna alami didapat dari kandungan tanin yang ada pada Rhizophora mucronota. Selain Rhizophora mucronota, ada empat varietas mangrove lain yang bisa digunakan sebagai pewarna yakni Aegicas corniclatum, Ceriops decandra, Rhizopora apiculata, dan Avicenna alba seperti yang ditulis Antaranews.com (11/3/2013) . Empat varietas ini adalah limbah mangrove yang kerap dipangkas petani saat melakukan perawatan.

Proses mengubah buah mangrove menjadi pewarna alami cukup rumit, lo. Buah mangrove harus dipotong-potong terlebih dahulu sebelum direbus dalam air dengan suhu 10000 C selama 60 menit. Setelah itu, hasil olahan tersebut kembali dikeringkan menggunakan oven agar menjadi bubuk. Nah, bubuk itulah yang digunakan sebagai pewarna batik.

Batik mangrove. (Inibaru.id/Artika Sari)

Batik yang menggunakan pewarna alami mangrove biasanya memiliki warna yang nggak mencolok. Untuk membawa pulang batik ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu per kain.

Batik mangrove. (Inibaru.id/Artika Sari)

Nah, kalau kamu menghendaki warna yang agak ngejreng, kamu bisa membeli batik dengan campuran pewarna sintetis. Batik dengan pewarna campuran antara alami dan sintetis ini dijual lebih murah dengan harga Rp 150 ribu per kain.

Baca juga:
Ini Dia Tiga Objek Wisata Mangrove di Semarang
Membuka Mata Masyarakat Tentang Mangrove Ala Laili

Masalah pilihan motif, nggak perlu khawatir. Batik mangrove tersedia dalam berbagai motif seperti udang, ikan, dan pohon mangrove. Motif itu merupakan ciri khas desa setempat yang identik dengan laut.

Nah, bila kamu pengin membeli kue atau batik mangrove, langsung saja ke Dusun Tapak atau Kelurahan Mangunharjo, Semarang ya, Millens. Eits, tapi kamu harus memesan terlebih dahulu ya bila mau mencicipi kue atau bolu mangrove karena nggak sewaktu-waktu kue itu tersedia. Selamat berbelanja. (Artika Sari/E04)