Kisah di Balik Semangkuk Bakso Babat Pak Wardi yang Terkenal

Kisah di Balik Semangkuk Bakso Babat Pak Wardi yang Terkenal
Gerai Bakso Pak Wardi yang berada di Banyumanik, Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

"Kepuasan pelanggan adalah hal utama," itulah komitmen yang selalu dipertahankan oleh Bakso Pak Wardi.

Inibaru.id -  Sobat Millens, kalau kamu sedang berada di Semarang, jangan lupa mencoba salah satu kuliner enak yang hanya bisa kamu temui di sini. Yap, Bakso Pak Wardi! Meskipun bakso bisa ditemui di mana saja, tapi berbeda dengan bola-bola daging yang satu ini.

Sesuai namanya, gerai bakso ini didirikan Wardi, lelaki kelahiran Semarang yang mulai berjualan sejak 1992. Dialah yang menciptakan resep rahasia di Bakso Pak Wardi yang masih terus dipertahankan hingga saat ini.

Hidangan lezat Bakso Babat Pak Wardi. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Niko Kristanto, penanggung jawab di gerai Bakso Pak Wardi, mengatakan, bakso tersebut punya banyak penggemar yang selalu kembali datang. Mereka kebanyakan adalah para penikmat Bakso Pak Wardi yang sudah akrab dengan kelezatan rasanya sejak 1990-an.

“Kalau boleh dibilang mereka itu fanatik sama bakso Pak Wardi karena sudah kenal bakso kami bukan setahun dua tahun. Ada yang kuliah sampe sekarang punya anak masih suka ke sini. Nah, mereka itu hapal betul rasa bakso buatan Pak Wardi, kalau ada yang beda misal dari kuahnya, pasti tahu,” kata Niko.

Beberapa menu yang ada di Bakso Pak Wardi. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Karena itu, Bakso Pak Wardi senantiasa mempertahankan citar asanya. Kini, meski pun sudah punya 5 gerai, produksi bakso tetap dilakukan di gerai pusat yang berada di depan RS Telogorejo, Jl KH Ahmad Dahlan, Pekunden, Semarang Tengah.

“Pembuatannya masih sama, bahkan masih menggunakan tangan, bukan mesin. Pak Wardi pernah ditawari menggunakan mesin, tapi beliau menolak, karena ingin mempertahankan kualitas rasa,” ujarnya.

Para pengunjung di gerai Bakso Pak Wardi. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Gerobak Keliling

Awal berdiri, Wardi mengedarkan bakso buatannya dengan berkeliling menggunakan gerobak di sekitar RS Telogorejo. Setelah memiliki banyak pelanggan, dia pun membuka warung bakso perdananya di dekat rumah sakit yang berada nggak jauh dari pusat kota itu. Hingga kini, warung "saksi sejarah" itu masih berdiri. 

Sukses dengan satu gerai, Wardi membuka empat gerai lain, yakni di Banyumanik, Puri Anjasmoro, Wolter Monginsidi, dan Sampangan. Nama Bakso Pak Wardi pun dikenal hingga ke seantero Semarang.

Hingga seberhasil ini, bukan berarti perjuangan Wardi diraih tanpa pengorbanan. Niko bercerita, pernah suatu ketika Wardi kehabisan modal sehingga harus menjual televisi di rumahnya.

“Anak Pak Wardi yang masih kecil pernah menangis karena nggak rela televisi yang merupakan satu-satunya hiburan di rumah harus dijual,” kenang Niko.

Potongan babat dan iso atau usus sapi yang ada di dalam hidangan Bakso Pak Wardi. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Perjuangan itu, lanjut Niko, menjadi pengalaman berharga bagi semua orang, terutama bagi pemilik kedai bakso tersebut.

"Kepuasan pelanggan selalu menjadi nomor satu!" pungkas Niko. (Verawati Meidiana/E03)